FILSAFAT ILMU SEBAGAI LANDASAN PENGEMBANGAN
ILMU PENGETAHUAN ALAM (SAINS)
Oleh:
Moh. Arif
IAIN Tulungagung
Email: m_arif_ smnp@yahoo.co.id
\
Abstrak: Mengemukakan bahwa filsafat ilmu tidak terlepas
dengan masalah keyakinan ontologik, yaitu suatu keyakinan yang harus dipilih
oleh sang ilmuwan dalam menjawab
pertanyaan tentang apakah “ada” (being, sein, het zijn). Inilah
awal-mula sehingga seseorang akan memilih pandangan yang
idealistis-spiritualistis, materialistis, agnostisistis dan lain sebagainya,
yang implikasinya akan sangat menentukan dalam pemilihan epistemologi, yaitu
cara-cara, paradigma yang akan diambil dalam upaya menuju sasaran yang hendak
dijangkaunya, serta pemilihan aksiologi yaitu nilai-nilai, ukuran-ukuran mana
yang akan dipergunakan dalam seseorang mengembangkan ilmu. Oleh
karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan
keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan
menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. memahami filsafat ilmu untuk mengembangkan diri sebagai ilmuwan maupun sebagai pendidik yang dalam
melakukan penelitian dapat menggunakan berbagai alternatif metodologi penelitian sesuai dengan konsentrasi bidang studinya dan mampu menerapkan filsafat ilmu sebagai dasar
pemikiran, perencanaan dan
pengembangan keilmuan-pendidikan yang
menghayati nilai-nilai ajaran agama dan nilai-nilai luhur budaya. Sementara itu, yang pendidika sains amerupakan kumpulan
fakta, konsep, teori, dan generalisasi yang menjelaskan tentang alam yang harus
dikaji melalui tinjauan filsafat ilmu sehingga penemuan dari suatu kebenaran ilmiah
mengenai hakikat semesta alam dapat dijelaskan secara logis dan memberikan
pemahaman konsep, dan hukum yang
bersifat ilmiah didekati melalui suatu proses induksi dari informasi yang
didapatkan dari berbagai data. Berdasarkan
hal tersebut maka sangatlah beralasan bahwa ilmu pengetahuan alam tidak
terlepas dari hubungan dengan ilmu induknya yaitu filsafat.
Keywords; Filsafat Ilmu, Ilmu Pengetahuan (sains)
Pendahuluan
Ditinjau dari segi historis, hubungan antara
filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada
permulaan sejarah filsafat di Yunani, “philosophia” meliputi hampir seluruh
pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dikemudian hari,
ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Filsafat Yunani Kuno
yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah (Bertens,
1987, Nuchelmans, 1982).
Lebih lanjut Nuchelmans (1982), mengemukakan
bahwa dengan munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah
terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian
dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17 tersebut ilmu pengetahuan adalah
identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Van Peursen
(1985), yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat,
sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut.
Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koento
Wibisono (1999), filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu
konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh
mekar-bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang
filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya
sendiri-sendiri.
Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan
semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya
memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan
yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Oleh karena itu
tepatlah apa yang dikemukakan oleh Van Peursen (1985), bahwa ilmu pengetahuan
dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas
(konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan.
Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan
atau pembagian dalam ilmu pengetahuan, sejak F. Bacon (1561-1626) mengembangkan semboyannya
“Knowledge Is Power”, kita dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan
terhadap kehidupan manusia, baik individual maupun sosial menjadi sangat
menentukan. Karena itu implikasi yang timbul menurut Koento Wibisono (1984),
adalah bahwa ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang
lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis
dengan ilmu terapan atau praktis.
Untuk mengatasi gap antara ilmu yang satu
dengan ilmu yang lainnya, dibutuhkan suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani
serta mewadahi perbedaan yang muncul. Oleh karena itu, maka bidang filsafatlah
yang mampu mengatasi hal tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Immanuel kant
(dalam kunto Wibisono dkk., 1997) yang menyatakan bahwa filsafat merupakan
disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan
manusia secara tepat. Oleh sebab itu Francis bacon (dalam The Liang Gie, 1999)
menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the
sciences).
Lebih lanjut Koento Wibisono dkk. (1997)
menyatakan, karena pengetahuan ilmiah
atau ilmu merupakan “a higher level of knowledge”, maka lahirlah filsafat
ilmu sebagai penerusan pengembangan
filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek
sasarannya: Ilmu (Pengetahuan). Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan
pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu yaitu:
ontologi, epistemologi dan aksiologi. Hal ini didukung oleh Israel Scheffler
(dalam The Liang Gie, 1999), yang berpendapat bahwa filsafat ilmu mencari pengetahuan umum
tentang ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu.
Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung
arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah
dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat.
Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman (dalam Koento Wibisono
dkk.1997), bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena
terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari
yang lain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat
memerlukan landasan pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah.
Pengertian
Filsafat
Perkataan Inggris philosophy yang
berarti filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia” yang lazim
diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia,
cinta) dan sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari
zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan
pengertian sophia yang semula itu ternyata luas sekali. Dahulu sophia
tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama,
pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian
pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis (The Liang
Gie, 1999).
Banyak pengertian-pengertian atau
definisi-definisi tentang filsafat yang telah dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam Soeparmo, 1984), secara
harafiah filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Maksud sebenarnya adalah pengetahuan tentang
kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat
manusia dalam segala aspek perilakunya seperti: logika, etika, estetika dan
teori pengetahuan.
Kalau menurut tradisi
filsafati dari zaman Yunani Kuno, orang yang pertama memakai istilah philosophia
dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.), yakni seorang ahli
matematika yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang
menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras menganggap
dirinya “philosophos” (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang
sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Selanjutnya, orang yang
oleh para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales
(640-546 S.M.). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat
alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat
kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui
asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The Liang Gie, 1999).
Menurut sejarah
kelahiran istilahnya, filsafat terwujud sebagai sikap yang ditauladankan oleh
Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran
seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa
dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan
penalarannya untuk mendapatkan kebenaran (Soeparmo, 1984).
Timbulnya filsafat
karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya kekaguman atau
keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut,
karena persoalan manusia makin kompleks, maka tidak semuanya dapat dijawab oleh
filsafat secara memuaskan. Jawaban yang diperoleh menurut Koento Wibisono
dkk. (1997), dengan melakukan refleksi yaitu berpikir tentang pikirannya
sendiri. Dengan demikian, tidak semua persoalan itu harus persoalan filsafat.
Peran Filsafat Ilmu
Pengertian-pengertian tentang filsafat ilmu,
telah banyak dijumpai dalam berbagai buku maupun karangan ilmiah lainnya.
Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif
terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu
maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu
merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya
bergantung pada hubungan timbal-balik
dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.
Sehubungan dengan pendapat tersebut serta
sebagaimana pula yang telah digambarkan pada bagian pendahuluan dari tulisan
ini bahwa filsafat ilmu merupakan
penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah
ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti
perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan
lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini
senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980) bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah
sesuatu yang selalu berubah.
Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan
pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan
heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja
kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan
manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).
Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali
secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga
implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman. Dengan
demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk
masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat dari
sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami
hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat
ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya
merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu
sendiri.
Lebih lanjut Koento Wibisono (1984),
mengemukakan bahwa hakekat ilmu menyangkut masalah keyakinan ontologik,
yaitu suatu keyakinan yang harus dipilih oleh sang ilmuwan dalam menjawab
pertanyaan tentang apakah “ada” (being, sein, het zijn) itu. Inilah awal-mula
sehingga seseorang akan memilih pandangan yang idealistis-spiritualistis, materialistis,
agnostisistis dan lain sebagainya, yang implikasinya akan sangat menentukan
dalam pemilihan epistemologi, yaitu cara-cara, paradigma yang akan diambil
dalam upaya menuju sasaran yang hendak dijangkaunya, serta pemilihan aksiologi
yaitu nilai-nilai, ukuran-ukuran mana yang akan dipergunakan dalam seseorang
mengembangkan ilmu.
Dengan memahami hakekat ilmu itu, menurut
Poespoprodjo (dalam Koento Wibisono, 1984), dapatlah dipahami bahwa
perspektif-perspektif ilmu, kemungkinan-kemungkinan pengembangannya,
keterjalinannya antar ilmu, simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan lain
sebagainya, yang vital bagi penggarapan ilmu itu sendiri. Lebih dari itu,
dikatakan bahwa dengan filsafat ilmu, kita akan didorong untuk memahami
kekuatan serta keterbatasan metodenya, prasuposisi ilmunya, logika validasinya,
struktur pemikiran ilmiah dalam konteks dengan realitas in conreto sedemikian
rupa sehingga seorang ilmuwan dapat terhindar dari kecongkakan serta kerabunan
intelektualnya.
Lebih lanjut, memahami filsafat ilmu untuk mengembangkan diri
sebagai ilmuwan maupun sebagai
pendidik yang dalam melakukan penelitian dapat menggunakan berbagai alternatif metodologi penelitian sesuai dengan konsentrasi bidang studinya. Mampu
menerapkan filsafat ilmu sebagai dasar pemikiran, perencanaan dan pengembangan keilmuan-pendidikan yang menghayati nilai-nilai ajaran agama
dan nilai-nilai luhur budaya.
Adanya pola berfikir semacam ini akan
menumbuhkan sikap ketenangan, keseimbangan pribadi, mengendalikan diri, dan
tidak emosional. Sikap dewasa secara filsafat dalam penyelidikan alam adalah sikap menyelidiki secara
objektif, kritis, skeptis, terbuka (open
minded), toleran, dan selalu bersedia meninjau suatu masalah dari berbagai
sudut pandangan. Metode berfikir ilmiah ini merupakan gabungan antara
pendekatan induktif-empirik dengan
pendekatan deduktif-rasional.
Auguste Comte, meyakini bahwa masyarakat
modern semakin aktual dan relevan harus memiliki pemahaman/penguasaan (understanding) basic science, yaitu matematika, kimia, fisika, dan biologi. Sebab, adanya penguasaan dan kemajuan ilmu
pengetahuan tersebut, disatu sisi telah memudahkan hidup manusia, namun disisi
lain justru telah menimbulkan gejala-gejala adanya kerusakan (catastrophe) yang semakin meningkat
dengan akibat-akibat yang fatal.
Oleh karena itu, disinilah pentingnya
adanya kebijaksanaan (wisdom). Terkait dengan itu, arah hakikat pengunaan ilmu ialah
penggunaan yang humanis dan
integratif dengan
nilai-nilai. Para ilmuwan
harus memiliki tanggung jawab dan integritas yang tinggi. Memiliki etik dan
moral bahwa ilmu adalah tidak bebas nilai. Etis dalam arti kemajuan ilmu
pengetahuan dan penerapannya ditujukan untuk meningkatkan harkat dan martabat
manusia
Pengertian Penetahuan (Sains)
Ilmu pengetahuan (sains) dapat didefinisikan, yakni pengetahuan
tentang gejala alam yang diperoleh melalui proses yang disebut metode ilmiah
(scientific method) (Jujun S. Suriasumantri, 1992). Definisi lain, sains adalah
kegiatan intelektual yang berkaitan dengan alam fisik beserta semua fenomenanya
dan memerlukan pengamatan (observasi) yang tidak bias serta eksperimentasi yang
sistematik." Sains dipandang sebagai sesuatu yang memiliki disiplin
yang ketat, ilmiah, dan objektif.
Sementara itu, yang dimaksud pendidikan sains adalah kumpulan fakta, konsep, teori,
dan generalisasi yang menjelaskan tentang alam. Melalui pendidikan sains,
penemuan dari suatu kebenaran ilmiah mengenai hakikat semesta alam dijelaskan
secara logis untuk memberikan pemahaman konsep. Hukum yang bersifat ilmiah
didekati melalui suatu proses induksi dari informasi yang didapatkan dari
berbagai data.
Obyek penelitian sains mencakup keseluruhan alam semesta dengan segenap isinya. Sikap ini sesuai dengan petunjuk
Al-Qur’an bahwa dalam setiap melakukan aktivitas, termasuk dalam pencarian ilmu pengetahuan kealaman (sains): ”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” (Qs. al-‘Alaq [96]: 1). Ayat ini supaya manusia dalam
“kegiatan membaca/meneliti”
memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman.
Iqra` haruslah dengan bismi rabbika, yaitu tetap berdasarkan
iman kepada Allah, yang merupakan asas Aqidah Islam (al-Qashash,1995: 81). Al-Quran juga menyatakan bahwa objek ilmu
meliputi batas-batas alam materi (physical
world), karena itu dapat dipahami mengapa Al-Quran di samping menganjurkan
untuk mengadakan observasi dan eksperimen (QS. [29]: 20), juga menganjurkan untuk
menggunakan akal dan intuisi (antara lain, QS [16]:78).
Dengan demikian, sejak semula Allah Swt
dalam Al-Quran menyatakan bahwa di balik alam raya ini ada Tuhan yang wujud-Nya
dirasakan di dalam diri manusia (antara lain QS 2:164; 51:20-21), dan bahwa
tanda-tanda wujud-Nya itu akan diperlihatkan-Nya melalui pengamatan dan
penelitian manusia, sebagai bukti kebenaran Al-Quran (QS 41:53).
Memberikan isyarat melalui ayat-ayat-Nya bahwa tafakkur menghasilkan sains, tashkhir menghasilkan teknologi guna kenyamanan hidup manusia.
Simpelnya, tanpa keraguan dapat
dinyatakan bahwa "Al-Quran" membenarkan --bahkan mewajibkan--
usaha-usaha pengembangan ilmu sains dan teknologi, selama ia membawa manfaat untuk manusia serta
memberikan kemudahan bagi mereka.
Karakteristik Sains dan Metodologi Kajiannya
Sains
merupakan khazanah informasi yang berupa klasifikasi fakta serta pengakuan dan
elaborasi makna serta peranannya dalam penataan pengetahuan mengenai perilaku
alam yang diatur oleh hukum sebab akibat (kausalitas). Hukum ini merupakan
cerminan kekuasaan Allah dalam mengatur perilaku ciptaanNya (al Kaun) secara
deterministik untuk yang berukuran makroskopis, tetapi untuk yang berukuran
mikroskopis berubah sifatnya menjadi deterministik secara rata-rata mengikuti
paradigma mekanika kuantum bagi ciptaan yang bersifat inanimate (benda mati) sehingga tak memiliki kehendak (Nagel, 1982,
hal.27-335), agar manusia dapat memanfaatkannya dalam mengemban amanah dari
Allah SWT baik sebagai khalifah maupun sebagai hamba Allah setelah mampu
mengaktualisasikan apa yang telah di”baca”nya mengenai alam semesta. Tujuan
penyelidikan ilmiah saat ini yang melahirkan perkembangan sains adalah
memisahkan berbagai faktor yang teramati dalam alam sesuai dengan masalah yang
diangkat, dan mengkaji faktor-faktor itu dalam hal kesesuaiannya dengan ramalan
yang objektif (hipotesis) dan dapat
diulangi, serta dengan fakta-fakta yang telah diterima dan terdokumentasi
sebelumnya.
Setiap
hukum berasal dari suatu hipotesis atau pernyataan ilmiah yang berlaku umum
mengenai korelasi numeratif antara sejumlah besaran yang diselidiki, yang telah
absah/tervalidasi yaitu setelah mengalami ujian empiris berulang-ulang dan
belum pernah menunjukkan adanya kontradiksi.
Selain
hasil-hasil eksperimen, sains memerlukan pula pemanfaatan secara cerdas terhadap
pemikiran dan pertimbangan teoritis. Suatu hipotesis tertentu yang biasanya
diajukan pra-eksperimen mengenai gejala yang diselidiki berupa suatu dugaan
yang memerlukan pengalaman meneliti perumusannya, diikuti deduksi akibat-akibat
logis dari hipotesis tersebut dan pengamatan serta analisis yang andal oleh
perumusnya. Deduksi ini kemudian diverifikasi dengan hasil-hasil eksperimen
yang telah ada dalam pustaka maupun hasil rancangan peneliti sesudah pengujian
terlaksana sesuai dengan rencana. Jika terjadi ketidaksesuaian, maka hipotesis
tersebut ditinggalkan. Jika terdapat persesuaian, yaitu ramalan fakta
eksperimental baru yang terkonfirmasi secara meyakinkan, maka berarti hipotesis
diterima. Suatu hipotesis disebut baik, jika ia mampu menghasilkan ramalan-ramalan
yang dapat diuji melalui proses yang dikenal sebagai metode ilmiah (metode
sains). Kelanjutan eksplorasi sains adalah penyusunan teori kolektif sebagai
suatu sintesis sejumlah besar informasi, yang tersusun dari hipotesis-hipotesis
yang telah teruji serta terverifikasi dengan baik mengenai suatu aspek dari
dunia nyata.
Setiap
teori harus dibangun berdasarkan metode sains yang dikenal sebagai metode
ilmiah. Metode sains yang dirintis oleh Bacon mulai digunakan secara lengkap
oleh Issac Newton, secara mendasar meliputi tiga langkah utama yang
menggambarkan tiga unsur terpadu yang membentuk suatu spiral kerucut terbalik
mulai dari puncak di bawah sampai ke dasarnya yang terletak terbalik di atas
yang menghubungkan tingkat empiris, logika, dan verifikasi rangkaian proses
elaborasi ilmiah. Ketiga langkah-langkah tersebut di atas meliputi : pertama, Observasi/pengamatan
terhadap gejala alam berupa eksplorasi empiris dalam bentuk eksperimen
terancang (designed experiment).
Kedua. Penalaran berbasis logika untuk menjelaskan berbagai
hasil eksperimen yang muncul dari langkah (1) sebagai penjelasan atas kegiatan
empirik, dan memperluas wilayah keberlakuannya untuk menghasilkan ramalan
gejala alam baru yang merupakan kegiatan teoritik. Prosedur elaborasi teoritik ini menggunakan metode induksi dan
deduksi yang diterapkan secara terpisah maupun terpadu sebagai suatu rangkaian.
Ketiga. Pengujian
ramalan tertentu yang muncul dari
langkah (2). Pengujian hipotesis ini untuk mengetahui sudah sesuai atau belum
dengan pengamatan langsung yang dilakukan secara eksperimen (verifikasi secara
empirik). Jika belum sesuai, maka perlu dilakukan modifikasi pada hipotesis
beserta analisisnya. Suatu pengamatan verifikatif yang berhasil/sesuai kadang
kala berfungsi sebagai pengamatan eksploratif untuk menemukan fakta-fakta baru,
sehingga peneliti dapat memulai kegiatan tahapan spiral pengembangan berikutnya
(Nagel, op cit., hal. 79-105)
Dewasa
ini kajian mengenai sains terbagi menjadi kajian mengenai makhluk hidup (animate) yang meliputi bidang-bidang
biologi, pertanian, dan ilmu kesehatan, serta benda-benda mati (unanimate) yang meliputi bidang-bidang
fisika, kimia, geologi, astronomi, dan farmasi, serta matematika yang merupakan
disiplin ilm tersendiri dan merupakan pendukung dalam aspek logika dan
numeratif.
Sains
kealaman (natural sciences) yang
secara garis besar meliputi fisika dan kimia tidak hanya merupakan bagian dari
IPA, namun keduanya adalah sains dasar (basic
science) yang bersama-sama dengan matematika sebagai disiplin ilmu yang
sifatnya numeratif mendukun ilmu-ilmu lain. Fisika mengkaji hal-hal paling
mendasar, yakni mengenai perilaku entitas mendasar di alam yang bermuara pada
energi, seperti gerakan, ruang, waktu, gaya, kerja, materi, momentum, daya,
suhu, gelombang, bunyi dan cahaya, atom dan inti atom serta sistem zarah dalam
atom, yakni inti dan sub-inti. Kimia merupakan kajian mengenai bagaimana materi
terhimpun dari penyusunnya, bagaimana atom bergabung membentuk molekul dan
molekul bergabung menjadi senyawa dan zat dengan struktur kompleks, baik yang
bermanfaat maupun yang merugikan. Selanjutnya objek sains biologi mengkaji hal
yang lebih kompleks lagi berupa biomolekul dalam makhluk-makhluk hidup.
Filsafat
Ilmu Sebagai
Landasan Pengembangan Pengetahuan Alam
Frank (dalam Soeparmo, 1984), dengan mengambil
sebuah rantai sebagai perbandingan, menjelaskan bahwa fungsi filsafat ilmu
pengetahuan alam adalah mengembangkan pengertian tentang strategi dan taktik ilmu pengetahuan alam. Rantai
tersebut sebelum tahun 1600, menghubungkan filsafat disatu pangkal dan ilmu
pengetahuan alam di ujung lain secara berkesinambungan. Sesudah tahun 1600,
rantai itu putus. Ilmu pengetahuan alam
memisahkan diri dari filsafat. Ilmu pengetahuan alam menempuh jalan praktis
dalam menurunkan hukum-hukumnya. Menurut Frank, fungsi filsafat ilmu
pengetahuan alam adalah menjembatani putusnya rantai tersebut dan menunjukkan
bagaimana seseorang beranjak dari pandangan common sense
(pra-pengetahuan) ke prinsip-prinsip umum ilmu pengetahuan alam. Filsafat ilmu
pengetahuan alam bertanggung jawab untuk membentuk kesatuan pandangan dunia
yang di dalamnya ilmu pengetahuan alam, filsafat dan kemanusian mempunyai
hubungan erat.
Sastrapratedja (1997),
mengemukakan bahwa ilmu-ilmu alam secara fundamental dan struktural diarahkan
pada produksi pengetahuan teknis dan yang dapat digunakan. Ilmu pengetahuan
alam merupakan bentuk refleksif (relefxion form) dari proses belajar
yang ada dalam struktur tindakan instrumentasi, yaitu tindakan yang ditujukan
untuk mengendalikan kondisi eksternal manusia. Ilmu pengetahuan alam terkait
dengan kepentingan dalam meramal (memprediksi) dan mengendalikan proses alam.
Positivisme menyamakan rasionalitas dengan rasionalitas teknis dan ilmu
pengetahuan dengan ilmu pengetahuan alam.
Menurut Van Melsen
(1985), ciri khas pertama yang menandai ilmu alam ialah bahwa ilmu itu
melukiskan kenyataan menurut aspek-aspek yang mengizinkan registrasi
inderawi yang langsung. Hal kedua yang penting mengenai registrasi ini
adalah bahwa dalam keadaan ilmu alam sekarang ini registrasi itu tidak
menyangkut pengamatan terhadap benda-benda dan gejala-gejala alamiah,
sebagaimana spontan disajikan kepada kita. Yang diregistrasi dalam eksperimen
adalah cara benda-benda bereaksi atas “campur tangan” eksperimental kita.
Eksperimentasi yang aktif itu memungkinkan suatu analisis jauh lebih teliti
terhadap banyak faktor yang dalam pengamatan konkrit selalu terdapat
bersama-sama. Tanpa pengamatan eksperimental kita tidak akan
tahu menahu tentang elektron-elektron dan bagian-bagian elementer lainnya.
Ilmu pengetahuan alam
mulai berdiri sendiri sejak abad ke 17. Kemudian pada tahun 1853, Auguste Comte
mengadakan penggolongan ilmu pengetahuan. Pada dasarnya penggolongan ilmu
pengetahuan yang dilakukan oleh Auguste Comte (dalam Koento Wibisono, 1996),
sejalan dengan sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri, yang menunjukkan bahwa
gejala-gejala dalam ilmu pengetahuan yang paling umum akan tampil terlebih
dahulu. Dengan mempelajari gejala-gejala yang paling sederhana dan paling
umum secara lebih tenang dan rasional, kita akan memperoleh landasan baru bagi
ilmu-ilmu pengetahuan yang saling berkaitan untuk dapat berkembang secara lebih
cepat. Dalam penggolongan ilmu pengetahuan tersebut, dimulai dari
Matematika, Astronomi, Fisika, Ilmu Kimia, Biologi dan Sosilogi. Ilmu Kimia
diurutkan dalam urutan keempat.
Penggolongan tersebut
didasarkan pada urutan tata jenjang, asas ketergantungan dan ukuran
kesederhanaan. Dalam urutan itu, setiap ilmu yang terdahulu adalah lebih tua
sejarahnya, secara logis lebih sederhana dan lebih luas penerapannya daripada
setiap ilmu yang dibelakangnya (The Liang Gie, 1999).
Pada pengelompokkan
tersebut, meskipun tidak dijelaskan induk dari setiap ilmu tetapi dalam
kenyataannya sekarang bahwa fisika, kimia dan biologi adalah bagian dari
kelompok ilmu pengetahuan alam.
Ilmu kimia adalah suatu
ilmu yang mempelajari perubahan materi serta energi yang menyertai perubahan
materi. Menurut ensiklopedi ilmu (dalam The Liang Gie, 1999), ilmu kimia dapat
digolongkan ke dalam beberapa sub-sub ilmu yakni: kimia an organik, kimia
organik, kimia analitis, kimia fisik serta kimia nuklir.
Selanjutnya Auguste Comte (dalam Koento
Wibisono, 1996) memberi efinisi tentang ilmu kimia sebagai “… that it
relates to the law of the phenomena of composition and decomposition, which
result from the molecular and specific mutual action of different subtances,
natural or artificial” ( arti harafiahnya kira-kira adalah ilmu yang
berhubungan dengan hukum gejala komposisi dan dekomposisi dari zat-zat yang
terjadi secara alami maupun sintetik). Untuk itu pendekatan yang dipergunakan
dalam ilmu kimia tidak saja melalui pengamatan (observasi) dan percobaan (eksperimen),
melainkan juga dengan perbandingan (komparasi).
Jika melihat dari sejarah perkembangan ilmu
pengetahuan alam, pada mulanya orang tetap mempertahankan penggunaan
nama/istilah filsafat alam bagi ilmu pengetahuan alam. Hal ini dapat dilihat
dari judul karya utama dari pelopor ahli kimia yaitu John Dalton: New
Princiles of Chemical Philosophy.
Berdasarkan hal tersebut maka sangatlah
beralasan bahwa ilmu pengetahuan alam tidak terlepas dari hubungan dengan ilmu
induknya yaitu filsafat. Untuk itu diharapkan uraian ini dapat memberikan dasar
bagi para ilmuan IPA dalam merenungkan kembali sejarah perkembangan ilmu alam
dan dalam pengembangan ilmu IPA selanjutnya.
Pentingnya filsafat ilmu dalam pendidikan
sains dapat dilihat dalam tiga kajian, yaitu kajian ontologis, kajian epistemologis,
dan kajian aksiologis. Dari kajian ontologis, objek yang ada yang akan
diteliti ialah yang dapat dijangkau teori melalui pengalaman
manusia secara empiris. Dari kajian epistemologis, yaitu pengembangan ilmu
dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif-fenomenologis untuk memperoleh pemahaman dan pengertian (verstehen) serta mencapai kearifan
(kebijaksanaan atau wisdom).Kemudian, dari kajian aksiologis ialah pendidikan sains sebagai proses pembudayaan
manusia secara beradab dalam perkembangan intelektual dan
pembentukan kepribadian. llmu pendidikan tidak bebas nilai atau memiliki etika.
Pendidikan sains dapat menjadi sarana
relevan untuk lebih memelihara dan menghargai alam dalam situasi lingkungan
heterogen maupun lingkungan homogen yang berkaitan erat dengan penerapan sains
dan teknologi. Dengan demikian, pendidikan sains bukan hanya memahami
konsep-konsep ilmiah dan aplikasinya dalam masyarakat, melainkan juga untuk
mengembangkan berbagai nilai.
Untuk memahami nilai-nilai sains diperlukan penalaran yang
logis
dan intuisi yang tajam. Pola pemikiran mulai dari tingkat pemikiran yang
sederhana sampai pada tingkat pemikiran yang kompleks, sedangkan melalui intuisi dalam pembentukan kepribadian, maka penghayatan internalisasi nilai-nilai
pendidikan sains bisa menjadi budaya
hidup.
Etika pengembangan keilmuan alam selalu
mengacu kepada kaidah moral, yaitu hati nurani, kebebasan dan tanggung jawab,
nilai dan norma yang bersifat utilitaristik
(kegunaan). Hati nurani disini adalah penghayatan tentang yang baik dan yang
buruk yang dihubungkan dengan periaku manusia. Ilmu pengetahuan diupayakan
bagaimana supaya menjadi berkah dan rahmat bagi kehidupan manusia
Dalam masyarakat yang beragama, ilmu adalah
bagian yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai ketuhanan karena sumber yang
hakiki adalah dari Tuhan, semua ilmu datang dari Allah SWT, Sang Maha Pemilik
Pengetahuan. Agama mengarahkan ilmu pengetahuan pada tujuan hakikinya, yaitu
memahami realitas alam, dan memahami eksistensi Tuhan (Allah Swt) dan memahami
hakikat penciptaan manusia sebagai khalifah Allah. Manusia adalah makhluk
ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya dibandingkan dengan makhluk yang
lain, karena manusia diberikan daya berfikir.
Daya fikir inilah yang menjadi sarana utama
penemuan teori-teori ilmiah. Dalam pendidikan sains, setiap orang tentunya
memiliki persfektif masing-masing mengenai suatu teori, sehingga memungkinkan
terjadinya perbedaan dalam menilai suatu kebenaran teori. Hal ini bukan hal
yang perlu diperdebatkan. Meskipun pada hakikatnya, kebenaran suatu teori
sangat penting bagi dapat diterimanya oleh semua orang.
Dalam konteks demikian diperlukan suatu
pandangan yang komprehensif tentang ilmu dan teori-teori kebenaran. Teori-teori
kebenaran yaitu teori kebenaran konsistensi/koherensi, teori kebenaran
korespondensi, teori kebenaran pragmatisme dan teori kebenaran religious.
Dengan demikian, para ilmuwan dalam menilai suatu ilmu/teori harus memiliki
pijakan berbagai teori kebenaran, dan juga yang terpenting mampu menjelaskan
atas dasar rasionalitas dan metedologis yang tepat.
Dengan demikian, dengan mempelajari dan
memahami berbagai fenomena alam, meliputi keragaman, keteraturan dan segala
keindahannya yang menakjubkan dalam alam semesta akan melahirkan pengakuan
terhadap keagungan Allah SWT dan merasakan kehadiran Allah SWT tanpa meski
memperdebatkan berbagai perbedaan persfektif yang ada.
Semakin luas wawasan seseorang dan semakin
dalam seseorang mempelajari IPA(sains),
maka semakin kecil ia merasa sebagai makhluk hidup dihadapan sang Khaliq (sang
Penciptanya), dan perbedaan/keragaman merupakan karunia dan berkah yang tidak
ternilai dari sedikit kekuasaan dan pengetahuan yang Allah SWT berikan pada
hamba-hamba-Nya.
Alam semesta dengan segala
isinya tak akan pernah habis dipikirkan, dan tidak pernah akan selesai
diterangkan. Pengakuan dan perasaan ini pada akhirnya juga akan mendorong
manusia untuk lebih bisa menghargai alam. Sir Isaac Newton, seorang fisikawan
terkemuka abad ke-17, mengibaratkan dirinya sebagai anak kecil yang sedang
bermain kerang di tepi pantai, sedangkan lautan luas yang terbentang di
hadapannya ibarat ilmu pengetahuan (sains)
yang tak mengenal batas
Demikian pula Einstein, yang semula eteis,
karena menekuni sains akhirnya mempercayai adanya Tuhan. Ia menyadari bahwa
filsafat, sains, seni, agama, dan sebagainya, masing-masing mendapat tempat
dalam kehidupan manusia dan saling terpadu secara holistik. Semuanya bersifat
saling membutuhkan dan saling mengisi, seperti yang dikatakan Einstein, bahwa “sains tanpa agama
adalah buta, dan agama tanpa sains adalah lumpuh”.
Pernyataan ini, selaras dengan Filosofis
Padi ”padi semakin berisi, maka akan
semakin merunduk”, berarti semakin seseorang memiliki intelektual yang
tinggi, maka perilakunya akan semakin rendah hati dan bijaksana. Maksudnya
mampu berfikir dan bertindak ilmiah dalam memecahkan persoalan-persoalan hidup,
terutama juga dalam interaksi dengan lingkungan alam.
Penutup
Berdasarkan uraian di atas, maka disimpulkan
bahwa filsafat ilmu sangatlah tepat dijadikan landasan pengembangan ilmu
khususnya ilmu pengetahuan alam karena
kenyataanya, filsafat merupakan induk dari ilmu pengetahuan alam.
Filsafat ilmu
memberikan implikasi dan kemanfaatan langsung untuk kehidupan manusia. Dalam
membentuk peranan urgensitasnya memiliki latar belakang dan tujuan serta arah
yang ingin dicapai. Filsafat ilmu menjadi kerangka bagi manusia dalam memahami
alam beserta kekayaan di dalamnya dengan pendekatan berfikir secara ilmiah,
rasional dan sistematis.
Filsafat Ilmu adalah cabang dari
epistemologi. Epistemologi mempunyai dua cabang, yaitu filsafat pengetahuan (theories of knowledge) dan filsafat ilmu
(theory of science). Kajian filsafat ilmu meliputi
bontologi, epistemologi, dan aksiologi. Filsafat ilmu menjadi tolak ukur untuk
memahami ilmu-ilmu lainnya.
Dalam konteks memahami nilai-nilai yang
terkandung dalam pendidikan sains, filsafat ilmu memadukan secara holistik
antara ilmu sosial dengan ilmu agama, sehingga penerapan sains memiliki etika
saintifik baik berdasarkan tataran rasionalitas maupun metodologisnya.
DAFTAR PUSTAKA
Bahm,
Archie, J., 1980., “What Is Science”, Reprinted from my Axiology; The
Science Of Values; 44-49, World Books, Albuquerqe, New Mexico, p.1,11.
Bertens, K., 1987., “Panorama
Filsafat Modern”, Gramedia Jakarta, p.14, 16, 20-21, 26.
Jujun S Suriasumantri. Perjalanan Filsafat Ilmu. Republika, Kamis, 20 September 2007 Posted on September
22, 2007. www.republika.co.id
Koento Wibisono S.
dkk., 1997., “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan”,
Intan Pariwara, Klaten, p.6-7, 9, 16, 35, 79.
Koento Wibisono S.,
1984., “Filsafat Ilmu Pengetahuan Dan Aktualitasnya Dalam Upaya
Pencapaian Perdamaian Dunia Yang Kita Cita-Citakan”, Fakultas Pasca
Sarjana UGM Yogyakarta p.3, 14-16.
____________________.,
1996., “Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte”,
Cet.Ke-2, Gadjah Mada University Press Yogyakarta, p.8, 24-26, 40.
____________________.,
1999., “Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umum Mengenai Kelahiran Dan
Perkembangannya Sebagai Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu”,
Makalah, Ditjen Dikti Depdikbud – Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta, p.1.
Mohammad Noor
Syam. Filsafat Pendidikan dan Dasar
Filsafat Pendidikan Pancasila. PT: Usaha Nasional, Surabaya, 1984
Nagel,
E. 1982. The Structure of Science,
Problems in Logic of Scientific Explanations, paperback edition of the 4th
impression, Gresham Press, UK.
Nuchelmans, G., 1982., “Berfikir
Secara Kefilsafatan: Bab X, Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam, Dialihbahasakan
Oleh Soejono Soemargono”, Fakultas Filsafat – PPPT UGM Yogyakarta
p.6-7.
Sastrapratedja,
M., 1997., “Beberapa Aspek Perkembangan Ilmu Pengetahuan”, Makalah, Disampaikan Pada Internship Filsafat
Ilmu Pengetahuan, UGM Yogyakarta 2-8 Januari 1997, p.2-3.
Soeparmo,
A.H., 1984., “Struktur Keilmuwan Dan Teori Ilmu Pengetahuan Alam”,
Penerbit Airlangga University Press, Surabaya, p.2, 11.
The
Liang Gie., 1999., Pengantar Filsafat Ilmu”, Cet. Ke-4, Penerbit
Liberty Yogyakarta, p.29, 31, 37, 61, 68, 85, 93, 159, 161.
Van
Melsen, A.G.M., 1985., “Ilmu Pengetahuan Dan Tanggung Jawab,
Diterjemahkan Oleh K.Bartens”, Gramedia Jakarta, p.16-17, 25-26.
Van
Peursen, C.A., 1985., “Susunan Ilmu Pengetahuan Sebuah Pengantar Filsafat
Ilmu, Diterjemahkan Oleh J.Drost”, Gramedia Jakarta, p.1, 4, 12.







0 komentar:
Post a Comment