Jejak-Jejak Lietrasi

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tuesday, September 1, 2020

Perjalanan Pendidikan

 

Perjalanan Pendidikan

Moh. Arif

 

Bagi masyarakat pendesaan atau daerah plosok Desa, sangat jarang mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, khususnya pada pendidikan perguruan tinggi, ini terjadi di era 90 an. Hal ini juga penulis alami. Penulis menyadari kondisi ini, dimana masyarakat pendesaan pada saat itu kurang memiliki akses informasi mengenai perkembangan pendidikan. Perjalanan penulis untuk menempu pendidikan ke jejang yang lebih tinggi mulai SD ke SLTP atau bahkan ke tingkat perguruan tinggi meninggalkan banyak kisah, perjuangan dan perjalanan terjal yang sedikit-demi sedikit penulis kikis sehingga mencapai pada puncak pendidikan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Perjalan pendidikan penulis dimulai pada saat sekolah dasar (SD Impres) nama yang tidak asing bagi masyarakat di zaman orde baru, pendidikan dimasa itu belum menurut penulis masih belum berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan anak bangsa. Namun hanya pada pemenuhan kewajiban UUD atau parauran lainnya. Pendidikan pada masa itu belum menyentuh pada substansi tujuan pendidikan itu sendiri, pola pendidikan masih menggunakan pola ceramah dan tindakan-tindakan kekerasan, ini tidak lepas dari masa kepemimpinan orde baru yang kejam dan keras dan tidak jarang siswa mengalami tindak kekerasan dari seorang guru atau antar sesama.  Hal itu, menurut penulis tidak lah berlaku umum, namun itu yang dirasakan penulis pada bangku sekolah dasar. Proses pembelajaran tidak berjalan sebagaimana mestinya bahkan kalau diprosentasikan antara kegiatan pembelajaran dengan tidak perbandingannya 35%:75%. Ini artinya bahwa pendidikan tidak lagi mementingkan kualitas atau bahkan proses.

Bagi penulis ini adalah tantangan dan mutivasi intrinsik yang selalu tumbuh dalam diri penulis, bahwa perjalanan masa depan sangatlah panjang, perubahan pola pikir semakin berkembang, zaman akan berubah, dan pola-pola pendidikan akan mengalami transformasi yang sanga cepat. Inilah yang menjadi keyakinan penulis untuk tidak putus asa dalam menggapai pendidikan yang lebih baik sesuai jenjang yang harus dilampaui. Pendidikan dasar pada tinggkat SD/MI belumlah selesai karena harus masuk pada jenjang pendidikan di atasnya yaitu pendidikan lanjutan pertama (SLTP/MTs). Pada tingkat ini, penulis mulai masuk pada fase dimana harus bersaing dengan berbagai lulusan SD/MI. Percaya diri harus ditunjukkan untuk membuktikan bahwa penulis bukanlah sosok yang lemah dan malas. Melalui pendidikan pada lajutan pertama, penulis mulai tumbuh motivasi belajar, rajin dan disiplin. Karena penulis meyakini bahwa dengan rajin dan disiplin akan mampu memberikan perubahan kemampuan dan prestasi.

Berlalu pada pendidikan lanjutan yang ditempuh penulis selama 3 tahun, penulis ingin mencari suasan baru yaitu melanjutkan pendidikan ke wilayah daratan pulau maduru, namun terkendala biaya dan jarak yang sangat jauh karena harus menyebrangi lautan luas dari pulau Kangean ke Madura, rasa waswas muncul, kekhawatiran muncul dan lain-lain. Kekhawatiran ini bukan karena takut kalah bersain, melainkan kondisi ekonomi dan komunikasi dengan keluarga. Namun dengan berjalannya waktu, penulis harus yakin dan nekat untuk bisa tetap lanjut ke jenjang pendidikan lebih tinggi (MA/SMA) di luar kepulauan Kangean, dengan modal keyakinan dan nekat, akhirnya penulis melanjutkan pendidikan di pondok pesantren An-Nuqoyah Guluk-Guluk Sumenep yaitu pada jenangan MA.

Perjalan melanjutkan ke pendidikan Madrasah Aliyah tidaklah mulus, karena harus mengikuti aturan yang berlaku di pondok pesantren An-Nuqoyah yang memiliki 3 lembaga pendidikan foral tingkat atas yaitu MA 2, MA 1 dan MAK. Untuk masuk ke 3 lembaga memiliki ketentuan-ketentuan, misalnya untuk masuk ke MAK harus memiliki kemampuan baca kitab, masuk ke MA 1 harus lulusan alumni MTs 1 An-Nuqoyah, sedangkan MA 2 cendrung menerima dari semua lulusan sebelumnya. Beberapa ketentuan di atas, penulis memilih MA 2, untuk menjadi tempat belajar setelah lulus MTs, namun perjalanannya tidaklah lancar karena letak MA 2 itu berada diluar lingkungan pondok pesantren An-Nuqoayah dimana penulis bermukim yaitu di daerah lubangsa Raya. Perjalanan dari pondok ke MA 2 ditempuh sekitar 6 KM yang ditempuh melalui jalan kaki atau naik angkot. Tidak lama dijalani, penulis merasa tak mampu untuk melanjutkan, hal ini bukan karena materi dan pembelajarannya, melainkan jarak tempuh yang sangat jauh. Akhirnya penulis berubah pikiran untuk pindah ke MA 1, namun dengan tetap mengikuti persayaratan yang ditentukan yaitu harus mengulang di MTs khusus sebagai syarat masuk ke MA 1. Setelah penulis memenuhi persayaratan tersebut, akhirnya mengikuti pembelajaran di MTs Khusus selama 3 tahun agar bisa masuk ke MA 1, setelah lulus, kemudian masuk ke MA 1. Suasana proses belajar mulai merasakan enjoy dan menikmatinya.

Perjalanan ini tentu membutuhkan perjuangan yang luar dan pantang menyerah karena berangka dari niat yang tulus untuk belajar dan belajar. Selama belajar di pondok pesantren An-Nuqayah tentu banyak pelajaran dan ilmu yang diperoleh dan ini menjadi bekal penulis untuk terus terbang mraih mimpi melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Waktu menyelesaikan pendidikan di PP An-Nuqayah selama 4 tahun, waktu yang sangat singkat dan cepat. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, penulis setelah lulus kemudian pulang kampun dan mengabdi selama 1 tahun. Selama 1 tahun belalu, pikiran mulai kuran fokus dan campur aduk antara melanjutkan ke jenjang S1 atau cukup dengan lulusan MA karena di sisi lain kondisi ekonomi orang tua yang tak mampu untuk membiyai pendidikan pada tingkat S1. Namun bagi penulis tidaklah menjadi kendala untuk tetap melanjutkan ke jenjang S1, apa sebenarnya yang memotivasi?. Motivasi yang muncul adalah karena banyaknya pemudah yang hanya lulus SD/SMP/MA, kurangnya kepedulian pada pendidikan keluarga dan lemahnya kesadaran terhadap pendidikan. Ini yang membuat penulis bersikeran untuk tetap melanjutkan ke jenjang S1. Pertama kali yang ditujuh adalah UNEJ Jember melalui jalus SMPTN dan kedua melanjutkan IAIN Yogyakarta. Kedua kampus tersebut tidak memberikan waktu lama bagi penulis untuk belajar sampai selesai karena faktor X yang kemdian tidak mendukung.

Dengan tetap pada niat awal, kemudian masuk ke IAIN Surabaya, lagi-lagi tidak sampai selesai, kemudian pindah ke IKAHA Tebuireng dengan harapan sambil mengikuti program pondok di PP Tebuireng. Selama di pondok tebuireng, penulis menyelesaikan program S1, kemudian melanjutkan program S2 melalu Beasiswa Kemenag pada tahun 2007 ke Universitas Negeri Yogyakarta. Perjalan saat mengikuti perkuliah alhamdulillah lancar dan sukses karena perkuliahan pada jenjang S2 ditempuh selama 23 bulan. Kemudian setelah lulus, mengabdi di tebuireng sebagai dosen di IKAHA. Pada tahun 2009 akhir, mendaftar sebagai dosen PNS di STAIN Tulungagung, alhamdulilah diterima sebagai dosen di program studi PGMI. Berjalan beberapa tahun kemudian, pada tahun 2014-2018 penulis dipercaya untuk menjadi kepala pusat PkM, namun tidak sampai selesai, pada tahun 2016, penulis melanjutkan ke jejnag S3, pas 9 tahun setelah lulus S2.

Perjalanan pada jenjang S3 tentu sangat meringankan karena mendapat beasiswa MORA dari kemenag selama 3 tahun. Selama kuliah S3, penulis dibebas tugaskan dari tugas sebagai dosen maupu tugas lainnya selama proses perkuliahan, termasuk tugas sebagai kepala pusat PkM. Perkuliahan S3 ditempuh selama 3 tahun dengan nilai prestasi coumload. Perjalan pendidikan ini bukanlah suatu kebetulan melainkan karena tekat, niat yang tulus dari dalam diri. Tak peduli biaya yang besar dan pelajaran yang sulit. Namun karena ketulusan dan motivasi diri yang dimiliki, merupakan modal untuk mencapai puncak karir pendidikan.

Pada saat ini, penulis merasa bersyukur dan berterimakasih kepada kedua orang tua, keluarga, anak istri, teman dan kolega yang telah mendukung perjalanan penulis untuk terus belajar dan berkair dalam dunia pendidikan dan berharap semua yang diperoleh dapat memberi manfaat bagi keluarga dan semua kalangan.

 

Jombang, 2 September 2020

Moh. Arif