Jejak-Jejak Lietrasi

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, August 27, 2020

Corona, Kuliah Daring di Rumah Saja

 

CORONA, KULIAH DARING DI RUMAH SAJA

Moh. Arif

 

Belakangan ini, semua aktifitas pekerjaan termasuk kegiatan belajar mengajar dilakukan melalui sistem online atau daring baik pada tingkat anak sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Hal ini bukan tanpa dasar, melalinkan karena satu kondisi dan kejadian dimana pada saat ini bangsa kita atau seluruh dunia terserang wabah virus corona (covid 19), perang melawan virus memang berbeda dengan perang melawan musuh dalam bentuk manusia atau makhluk hidup lainnya. Melawan virus tidak bisa dilihat kapan saja dan dimana saja bisa menyerang manusia sehingga diperlukan pengamanan, perlindungan yang ekstra agar kita tidak muda terserang.

Bahkan pemerintah melalui menteri dan seluruh komponen bangsa untuk melakukan phsycal distancing atau menjaga jarak, mengurangi perkumpulan banyak orang dan sering cuci tangan dengan sabun dan lain sebagainya. Hal tersebut bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona (covid 19) yang penyebarannya menurut WHO, COVID-19 menular dari orang ke orang karena adanya ciptratan ludah saat bicara, bersin atau batuk dari orang terinfeksi virus corona kepada orang lain dan terjadinya kontak langsung dengan orang yang terinfeksi virus corona, lalu kemudian dengan tidak sadar melakukan atau memagang bagian muka sehingga virus bisa masuk, namun demikian virus tidak menular melewati udara bebas.

Akibat dari kejadian inilah semua aktivitas manusia termasuk juga kegiatan ibadah di masjid dibatasi atau bahkan dihetikan seperti sholat jumat dan kegiatan yang mengundang banyak orang, sekalipun di beberapa daerah atau masyarakat desa kegiatan ibadah seperti sholat Jum’at, yasinan, diba’an dan lain sebagainya tetap dilakukan. Mereka meyakini bahwa kebiasaan baik yang sudah dilakukan bertahun tahun dapat menjadikan obat untuk tidak panik dan risau dengan kejadian ini, sekalipun sebagian kecil masyarakat juga khawatir dengan wabah virus ini.

Kejadian penyebaran wabah virus ini memang setiap hari mengalami peningkatan orang yang terjangkit, namun kita harus yakin dan optimis semua akan berakhir dengan hikmah dan pelajaran yang baik untuk kita ambil agar menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Sebagai upaya yang dilakukan untuk keberlangsungan aktivitas manusia di dalam menghadapi wabah virus corona pemerintah menghimbau agar melakukan pekerjaan di rumah termasuk dalam kegiatan belajar mengajar. Namun menjadi masalah bagi sebagian orang yang harus bekerja diluar rumah karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan untuk melakukan pekerjaan di rumah hal tersebut terjadi bagi masyarakat pekerja informal seperti ojek online, asongan, buruh dan lain sebagainya. Namun di sisi, lain bagi pekerja formal dan anak sekolah dituntut untuk melaksanakan pekerjaan, belajar atau kuliah daring online dan tinggal di rumah termasuk juga bagi anak-anak usia sekolah dan mahasiswa.

Kuliah daring atau belajar daring bukanlah sesuatu yang berkaitan dengan pembelajaran daring, melainkan kegiatan perkuliahan atau belajar yang dilakukan melalui sistem daring atau online sebagai bentuk upaya menjalankan intruksi pemerintah dalam melaksanakan kegiatan belajar menagajar ditengah penyebaran virus corona di seluruh indonesia termasuk di IAIN Tulungagung. Sekalipun istilah kuliah/ belajar daring sudah dilakukan sebelum adanya kejadian tersebut, akan tetapi belum menyeluruh dilaksanakan.

Kuliah daring atau online pada dasarnya menuntut kita untuk melek teknologi sebagai bagian yang tidak bisa dipishak dalam kehidupan masyarakat termasuk dunia pendidikan. Wabah virus corona yang melandah bangsa ini, berdasarkan pengamatan sebenarnya mengajarkan pada seluruh masyarakat dan dunia pendidikan untuk melek teknologi dan pengetahuan di era dimana perkembangan ilmu dan teknologi semakin pesat. Namun di sisi lain, kita dituntut untuk selalu menjaga kebersihan, dan menjaga diri dan keluarga dari segalah mara bahaya.

Dalam kondisi saat ini, kuliah daring menjadi tren dan menyeluruh dikalangan masyarakat khsusunya mahasiswa dan dosen, bagi mereka yang terbiasa dengan daring mungkin tidak ada masalah dan lancar saja, namun sebaliknya bagi mereka yang tidak terbiasa akan merasa kesulitan dan masalah. Hal ini menjadi renungan bagi kita semua khususnya bagi mereka yang belum terbiasa dengan sistem daring untuk terus belajar dan memanfaatkan teknologi sebagai bagian dalam dunia pendidikan khsusunya. Perkembangan teknologi saat dan yang akan datang ini memungkinkan perkuliahan dapat dilakukan dimana saja termasuk di rumah.

Di sisi lain semua orang harus tinggal di rumah hal tersebut lagi-lagi bertujuan menjaga mata rantai penyebaran virus corona dikalangan masayarakat, termasuk mahasiswa dan para dosen. Dalam situasi dan kondisi dimana terjadi kejadian luar biasa seperti penyebaran virus covid 19, kegiatan atau perkuliahan daring dalam rangka keberlangsungan perkuliahan yang tidak memungkinkan adanya pertemuan karena terdapat himbauan dari pemerintah dan kampus, maka kuliah daring manjadi solusi untuk tetap menjalankan perkuliahan di tengah suasana penyebaran virus covid 19 saat ini atau kejadian-kejadian lain di masa yang akan datang.

Kemudian, masyarakat termasuk mahasiswa dan dosen tinggal di rumah dapat dimanfaatkan berkumpul keluarga dan menjadi solusi untuk mencega penyebaran virus corona. Kuliah daring di rumah, di sisi lain dapat dimanfaatkan oleh semua orang baik dosen dan mahasiswa sambil berkumpul dengan keluarga, namun di sisi lain terdapat banyak keluhan baik dari mahasiswa maupun sebagian dosen untuk melaksanakan perkuliahan daring. Ada banyak faktor ketika harus kuliah dari/ belajar daring dan tinggal di rumah salah satunya adalah kekuatan jaringan/ sinyal, paketan yang terbagi bersama keluarga dan terganggu oleh aktivitas anak-anak yang juga melakukan kegiatan yang sama.

Kuliah daring di rumah haruslah dimanfaatkan untuk hal-hal yang posisitif dan produktif sekalipun harus dilakukan penyesuaian-penyesuaian yang tepat, karena pada saat di rumah bersama anak-anak dan istri pastinya akan merasa tidak efektif dan maksimal bahkan aktivitas daring sering terganggu, sehingga perlu pengaturan waktu yang tepat agar kegiatan dan pekerjaan di rumah bisa berjalan dengan baik dan lancar. Namun tetap tidak menyurutkan untuk belajar sekalipun hanya menyapa atau dengan kata “Assamu’alaikum” yang penting sudah aktif daring. Hal ini perlu dibangun pemahaman dan pondasi dalam menggunakan sistem druing dalam pendidikan khususnya dikalangan siswa maupun mahasiswa.

Pelaksanaan kuliah daring di rumah saja tidak ada pilihan untuk tidak bekerja dan menjalankan tugas sebagai siswa/mahasiswa dan pendidik dalam rangka keberlangsungan perkuliahan dan memberantas mata rantai penyebaran virus corona covid 19. Kuliah daring yang terkesan cepat dan singkat dalam berbagai hal baik informasi dan persipan tentu tidakla harus dipaksakan sempurnah dan berhasil maksimal, akan tetapi perlu kesadaran bersama untuk memulai dan melaksanakan secara bertahap dan pelan-pelan, bahkan dengan hanya sekedar ucapan apa kabar haruslah dimaklumi sambil terus belajar dan memahami dalam menggunakan aplikasi perkuliahan durung.

Pada saat ini, dimana masyarakat gelisah dan khawatir dengan merebahnya virus corona, tapi dengan kuliah daring dirumah harus menjadikan kita tetap bahagia dan bersemangat karena kita masih bisa bersilaturrahmi dengan orang lain bahkan juga dengan mahasiswa yang biasa ketemu langsung kita cukup melalui daring.  Demikian juga tinggal di rumah kita bisa bahagia karena bisa bersama, bercanda ria dengan keluarga, yang biasanya di saat kita sibuk di jalan dan di kantor, kadang jarang bertemu kelauarga. Hal ini menjadi kebahagian yang harus kita syukuri. Karena dibalik kesusahan, pasti ada kebahagian.

Menurut ahli saraf bahwa dibalik kejadian virus corona dan menuntut semua orang termasuk siswa, mahasiswa, guru dan dosen harus menjadikan teknologi sebagai media belajar dan tetap tinggal di rumah terdapat kebahagian tersendiri dibalik musibah yang terjadi yaitu pertama kebahagian kesadaran diri, kesadaran diri dalam situasi ini kita tetap menjalin kebersamaan melalui teknologi, kebersamaan bersama keluarga, kebahagiaan karena kita dapat belajar teknologi sedikit demi sedikit, kedua, terhubung dengan orang lain, yang biasa dilakukan secara langsung, kini dilakukan secara tidak langsung. Hal ini tidak menyurut untuk tetap melakukan kontak dengan orang lain termasuk dengan mahasiswa, ketiga saat dimana banya korban karena akibat terinfeksi virus covid 19, kita tetap untuk bersyukur dan bersabar karena masih banyak orang-orang yang berbuat baik, peduli dengan sesama dan tumbuh rasa kemunusiaan serta bersabar dalam menghadapinya.

Kuliah daring di rumah saja, ditengah wabah virus corona dan mungkin kejadian lain di masa yang akan datang dapat diambil pelajaran berharga bagi seluruh komponen masyarakat khsusunya para kaum pembelajar tidak menghalagi semangat belajar jarak jauh dan disiplin, menjadikan rumah sebagai pusat belajar bersama keluarga, membuka kesadaran masyarakat untuk peduli teknologi dan menjadikan rumah sebagai pusat kerja, kepdulian para pemangku kebijakan untuk menjadikan teknologi sebagai senjata mencerdaskan anak bangsa melalui penyediaan layanan teknologi, dan menuntuk masyarakat melek teknologi.

Banyaknya kegiatan dengan daring termasuk perkuliahan, ada seseorang bertanya. Apakah perkuliahan atau belajar daring sangat efektif? Pertanyaan ini saya tarik pada dua aspek yang pertama efektif dan kedua tidak efektif. Kuliah daring efektif dalam kondisi dimana sesorang harus tinggal di rumah, terdapat larangan untuk bertemu, larangan berkumpul dan melakukan kontak langsung yang dikhawatirkan terinfeksi virus atau menginfeksi virus ke orang lain, sehingga di saat situasi terjadinya penyebaran virus corona kegiatan perkuliahan daring sangat efektif.

Kuliah daring di rumah saja tidak efektif jika melihatnya dari substansi efektifitas pembelajaran karena ada beberapa faktor yaitu lemahnya penggunaan media online, ketersampaian substansi materi tidak maksimal, keterbatasan dialog, kapasitas dalam menggunakan jaringan terbatas, kurangnya pengkondisian sistem belajar karena lemahnya pengawasan dan memaksimalkan teknologi kurang efektif karena kegiatan belajar hanya satu arah

Berdasarkan uraian di atas, banyak kejadian-kejadian yang saya alamai dalam proses perkuliahan online di rumah, misalnya banyak mahasiswa merasa tidak puas dalam belajar karena merasa tidak bertemu langsung dengan dosennya, kegiatan pembelajaran tidak dianggap menarik karena tidak bisa bertatap muka dengan teman dan dosennya, belum lagi masalah ketepatan waktu dalam memberikan informasi karena disebabkan saluran atau jaringan sehingga membutuhkan waktu ber-jam-jam untuk menerima informasi dan mengirim informasi sehingga waktu habis hanya karena menunggu informasi datan atau terkirim, dan juga masalah kesalah pahaman menerima informasi yang tidak langsung mendapat respon. Sekalipun juga bagi sebagian orang tua belajar daring di rumah "Bisa lihat anak di rumah” dan mengetahui secara langsung kondisi belajar anak, yang selama ini belajarnya di sekolah.

Persoalan-persolan di atas tentu akan jadi penghambat dalam proses pekuliahan daring di rumah, jika tidak disiapkan layanan yang bagus dan menyeluruh diseluruh plosok desa agar semua masyarakat termasuk mahasiswa dapat menggunakan jaringan dengan baik dan lancar, serta mendukung kegiatan perkuliahan jarak jauh.

Sebagai penutup dari tulisan ini, bahwa kuliah daring di rumah saja, jangan hanya dijadikan pilihan alternatif dalam hal menjadikan teknologi informasi dalam kehidupan anak bang

sa, melainkan harus menjadi tujuan meningkatkan kemampuan dalam penguasaan teknologi dan informasi dalam setiap aktivitas dan layanan baik saat ini maupun yang akan datang.

Kejadian hari ini merupakan awal kebangkitan anak bangsa dalam memanfaatkan teknologi dan informasi sebagai media atau sarana dalam pengembangan diri, skill dan kapasitas keilmuan dalam menghadapi perkembangan zaman di masa yang akan datang. Jadikan rumah sebagai pusat pendidikan yang mengajarkan banyak hal baik pengetahuan, perilaku diri, moral, nilai dan kemandirian disamping persoalan-persolan yag terjadi. Belajar daring tetap di rumah adalah solusi jitu untuk mencerdaskan anak bangsa ditengah pademi virus corona.   Semoga kita senantiasa diberikan pertolongan dan kekuatan dalam menghadapi musibah penyebaran virus covid 19.      


Transformasi Diri Hasilkan Karya


 WFH: Transformasi Diri Hasilkan Karya 

Moh Arif

Bekerja atau belajar dari rumah sudah berlangsung selama hampir 1 bulan. Sampai kapan berakhir dan belum ada kepastian. Transformasi diri merupakan upaya untuk meningkatkan produktivitas kerja dari rumah. Hal ini, tentu harus dimanfaatkan oleh semua orang untuk melakukan apa saja termasuk menyelesaikan tugas-tugas atau pekerjaan kantor dan karya priabadi sebagai bagian dari tugas akademik. Bekerja atau belajar dari rumah upaya mentrasformasi diri dengan melaksanakan aktivitas rumah menjadi aktivitas produktif. Seiring dengan himbauan pemerintah untuk semua masyarakat pegawai dan pelajar untuk bekerja dan belajar dari rumah dalam rangkah memutus penyebaran covid 19 yang terus meningkat penyebarannya. Awal-awal diterapakan WFH semua orang campur aduk, ada yang senang ada pula yang gelisah, termasuk saya pribadi. Mereka yang senang karena bisa menikmati hari-hari jam kerja bersama keluarga dan bisa melihat anak-anak belajar dari rumah. Namun ada pula yang gelisah karena khawatir tidak bisa bekerja maksimal termasuk saya pribadi karena gangguan aktivitas anak-anak dan istri. Bahkan kekhawatiran lain yang muncul adalah pekerjaan apa yang harus dilakukan saat harus selalu di rumah.

Dengan berjalannya waktu, tentu pekerjaan kantor harus tetap dilakukan sebagai bentuk pertenggungjawaban atau profesi dan jabatan yang diembanya. Pekerjaan harus saya atur, pilih dan pilah baik yang berkaitan dengan mengajar, tugas kepala pusat AMI LPM IAIN TA dan tugas lainnya yang berkaitan dengan profesi agar semua berjalan dengan baik. Semua pekerjaan tersebut harus dilakukan dan dikerjakan dari rumah. Satu persatu pekerjaan dilakukan sesuai jadwal, khususnya terkait tugas mengajar secara daring, mengerjakan tugas kantor seperti mengedit pedoman, laporan hasil survey dan lain-lain. Namun dengan waktu yang sangat panjang, tentu juga dilakukan kegiatan lain seperti menulis jurnal, menyelsaikan buku, dan koreksi. Hal ini merupakan upaya menstraspormasikan diri dalam aktivitas dari rumah dengan tanpa mengurangi esensi tugas yang diemabnnya.

Semua pekerjaan dan tugas harus dilakukan, secara profesional agar dapat membuktikan bahwa bekerja dari rumah mampu meningkatkan produktivitas kerja atau pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik. Hal tersebut bagian dari transformasi diri dalam bekerja dari rumah. Bertambahnya waktu work from home (WFH), tertu harus mampu menyiapkan tugas-tugas apa yang bisa diselesaikan sekalipun pekerjaan-pekerjaan di atas belum tentu selesai dalam waktu yang sangat singkat seperti buku dan beberapa tulisan jurnal.

Berkerja dari rumah pada dasarnya dibutuhkan keseriusahan, mengatur kebiasaan di rumah, waktu dan lain sebagainya agar semua bisa berjalan dengan baik dan dapat menghasilkan karya. Pekerjaan apapun, dimanapun tempatnya tentu juga harus mampu melakukan perubahan (transformasi) diri dalam bekerja agar mampu menhasilkan karya yang diharapkan. Sekalipun bekerja dari rumah berbeda dengan bekerja di kantor, kalau di rumah bekerja ditemanin anak dan istri kalau di kantor ditemaninin teman-teman sejawat. Selama bekerja dari rumah berhari-hari selalu berhadapan laptop atau komputer untuk mengerjakan tugas, terkadang juga sambil komen-komen di group wa. fb dan instagram sambil melihat informasi-informasi yang menginspirasi untuk tetap semangat dalam bekerja dan bermain belajar serta bersih-bersih rumah.

Seiring berjalannya waktu, tentang WFH penulis harus bisa membuktikan karya apa yang bisa dihasilkan selama bekerja dari rumah. Saat itu juga, harus merubah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan pada umumnya saat di rumah. Sekalipun melaksanakan pekerjaan dari rumah pada jam kantor seringkali mendapat gangguan anak-anak sehingga mengacaukan konsentrasi pekerjaan, lalu kemudian coba dilakukan di malam hari tentu mata tak mampu menatap laptop berlama-lama. Ini menjadi tantangan agar bisa mentranformasikan diri agar dapat menghasilakn karya yang bisa dibuktikan baik pada diri sendiri maupun pada lembaga yang memberi tugas.

Beberapa hari kemudian, sambil pengamati percakapan dibeberapa group WA, lalu muncul usulan dan undangan untuk menulis. Misalnya di group IAIN Tulungagung ada undangan bergabung di group antologi kuliah daring untuk membuat tulisan (menulis essai) yang berkaitan dengan kuliah daring, ada usulan di WAG Quality Assurance, PTKIN  untuk menyusun pedoman AMI dengan bergabung ke group tim penyusunan pedoman AMI, di group yang lain ada permintaan untuk mengawal penyusunan akreditasi 9 kriteria mapun konversi nilai akreditas baik S1 mapun S2 dan penulis dimasukkan ke group mereka semua. Bagi penulis hal tersebut merupakan kesempatan dan peluang berharga untuk berpartisipasi dan aktif sebagai bagian transformasi diri untuk menghasilkan karya dari rumah.

Setelah bergabung dengan beberapa group WA di atas, penulis memulai sedikit demi sekit membagi waktu dan pekerjaan yang bersifat rutinitas mengajar. Di sisi lain, ada udangan menulis tentang kuliah daring, penyusunan pedoman AMI lintas PTKIN dan penulis tentang WFH. Untuk menyelesaikan tiga pekerjaan tersebut tentu dibutuhkan keseriusan, ketekunan, dan pengaturan waktu karena kita tahu bahwa saat bekerja dari rumah selalu terganggu dengan aktivitas anak-anak. Namun penulis yakin bahwa dengan upaya mentranformasikan diri dari yang biasa dilakukan di rumah pada umumnya mampu menyelesaikan dan menghasilkan karya-karya tersebut dengan tepat waktu.

Berdasarkan apa yang sudah dilakukan penulis selama bekerja dari rumah kata kuncinya adalah keseriusan, mau berusaha untuk berubah, ketekunan dan penuh tanggung jawab. Semua itu, merupakan modal untuk menghasilkan karya saat bekerja dari rumah. Tanpa hal tersebut, sangatlah berat untuk bisa menghasilkan karya dan bukti nyata.

Trasformasi Diri WFH

Pada dasarnya dimanapun kita bekerja khususnya saat WFH sangat dibutuhkan keseriusan, melakukan perubahan dan mampu menghasilakan produk kerja atau yang lainnya. Dalam kontek WFH tentu berbeda karena rumah adalah ruang keluarga sebagai tempat ekspresi, menghilangkan kepenatan, tempat bercanda ria dengan anak dan istri sehingga tidak ada kewajiban untuk menyelesaikan pekerjaan kantor, tidak ada aturan disiplin kerja dan kesabaran sebagaimana dilakukan di kantor pada umumnya. Akan tetapi disaat pandemi covid 19, semua pekerjaan harus dibawa ke rumah termasuk tugas belajar anak-anak. Transformasi diri dari pola-pola kerja yang tidak produktif menjadi pola-pola kerja yang produktif yang dapat menghasilkan karya. Karena itu, bekerja dari rumah bukan penghalang untuk menghasilkan karya, bukan penghalang untuk produktif dan menghasilkan produk kerja yang ditugaskan baik sebagai dosen mapun tugas kantor. Sekalipun hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah karena sangat dibutuhkan adapatasi dan penataan waktu terutama melatih diri merubah kebiasaan-kebiasaan yang tidak produktif menjadi produktif sebagai bentuk pertanggung jawaban pada Allah, atasan dan diri sendiri.

Berdasarkan tugas dan pekerjaan sebagaimana di group WA di atas, tentu bagi penulis dibutuhkan kerja keras untuk dapat menyelesaikannya sebagai bukti bahwa bekerja dari rumah juga dapat menghasilkan karya.  Transformasi diri dari yang tidak produktif selama di rumah menjadi produktif merupakan tantangan tersendiri di balik semua gangguan. Bahkan dengan kebijakan pemerintah terkait berkerja dari rumah, menurut hemat penulis sangat efektif dan memaksimalkan waktu untuk menghasilkan pekerjaan, bekerja dari rumah selalu disiplin waktu, bahkan lupa makan, istirahat dan bercanda ria dengan keluarga. Dengan demikian, tugas atau pekerjaan seolah-olah menjadi hal utama, padahal tentu bagi siapapun ketika di rumah yang utama adalah keluarga. Hal inilah yang menjadi tantangan penulis untuk mampu mentranformasikan diri dalam menghasilkan karya dari rumah.

Penulis sengaja mengangkat tema ini, karena penulis merasakan sendiri bagaimana melakukan transformasi diri dalam saat bekerja dari rumah untuk menghasilkan karya produktif. Sejak awal diberlakukannya bekerja atau belajar dari rumah pekerjaan sering terbengkalai, menumpuk khusunya tugas anak-anak dan tidak kunjung selesai. Berangkat dari itu, penulis berusaha merubah diri untuk selalu mengatur diri sendiri dalam menyusun tugas dan pekerjaan serta menerapkan pelajaran anak-anak sesuai dengan jamnya sekalipun diperlukan kerja keras untuk adaptasi. Namun sering waktu, semua berjalan dengan baik, pekerjaan diselesaikan berdasarkan target, tugas anak-anak berjalan dengan baik dan semua itu dapat dirasakan hasilnya.     

Hasilkan Karya dari Rumah

Di saat diberlakukannya WFH maka semua tugas dan pekerjaan dinformasikan lewat media sosial (WA) hal ini dilakukan untuk memudahkan penyebaran informasi yang berkaitan dengan tugas-tugas baik sebagai dosen maupun kepala pusat audit di LPM IAIN Tulungagung. Kebaradaan media informasi seperti whatsAapp sangat membantu bagi semua orang termasuk penulis untuk menerima maupun memberikan informasi saat melakukan pekerjaan dari rumah.

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa bekerja dari rumah dengan memanfaat media group whatsApp sangat penting sebagai media komunikasi informasi. Melalui whatsApp beberapa aktivitas kerja dapat dikomunikasikan dan dikoordinasikan sehingga mampu menghasilkan kerja nyata. Berkaitan dengan karya yang dihasilkan penulis selama di rumah (WFH) baik sebagai dosen maupun kepala pusat audit. Beberapa tugas-tugas yang diselesaikan seperti laporan hasil survey kepuasan mahasiswa terhadap dosen di lingkungan IAIN Tulungagung, pembuatan konsep aplikasi BKD online, dan beberapa insturmen IKS dan pemetaan syarat nilai akreditasi. Hasil pekerjaan atau karya tersebut meupakan tugas kerja yang harus diselesaikan selama WFH, sekalipun masih banyak tugas lain yang harus di selesaikaan.

Dari semua pekerjaan yang sudah dihasilkan di atas, juga terdapat hasil karya lain yang diselesaikan dengan bermodal group whatsApp yaitu pertama; penulisan essai tentang kuliah daring. Perjalanan dalam menyelesaikan penulisan essay kuliah daring cukup simple, mudah dan tidak membutuhkan waktu lama asal dilakukan secara konsisten, melakukan transformasi diri dalam bekerja di rumah. Gagasan penulisan essay tersebut berangkat dari idenya Dr, Ngainun Naim M.HI yang selalu memberikan motivasi dan kerja kerasnya untuk mendorong teman-teman untuk memanfaatkan waktu menghasilkan karya disaat harus bekerja dari rumah. Kedua; yang tidak kalah menariknya dan penuh perjuangan yang luar biasa yaitu karya pedoman audit mutu internal (AMI) lintas PTKIN, pedoman Monev, dan pedoman kampus merdeka. Proses lahirnya pedoman salah satu lokomotifnya adalah Dr. Fakhri Husaini, MA. Ketua LPM UIN Suka Yogyakarta.

Dengan ketelatenan dan kegigihannya, beliau tanpa kenal waktu untuk terus mensupport teman-teman perwakilan PTKIN di group whatsApp untuk terus bekerja menyelesaikan pedoman dari rumah. Hal ini bukan pekerjaan mudah di saat pandemi covid 19 kita harus menggerakkan seluruh PTKIN dalam menyusun 1 pedoman yang sangat luar biasa. Namun dengan keseriusan dan kesungguhan dari 44 kampus PTKIN yaitu UIN, IAIN dan STAIN di seluruh Indonesai mengirimkan 1 perwakilannya telah mampu menyelesaikan buku pedoman tersebut dalam waktu 3 hari.  Salah satu dari PTKIN tersebut adalah IAIN Tulungagung yang diwakili oleh penulis sendiri.

Dengan lahirnya satu karya pedoman AMI yang merupakan hasil kerja keras penulis bersama tim AMI. Perlu diketahu, bahwa “Buku Pedoman tersebut dimaksudkan untuk memastikan siklus penjaminan mutu di kampus berjalan dengan baik, khusunya di IAIN Tulungagung yang kita cintai. Sekalipun dengan lahirnya pedoman tersebut, namun dalam menerapkannya dibutuhkan kerja keras dan kerjasama semua pihak. Menurut salah satu tim AMI di group menyebutkan bahwa dalam pelaksanaan di lapangan tidak sesederhana pedoman ini dibuat, dimana resistensi selalu akan ada, tantangan audit mutu itu satu saja, tidak banyak yang mau diaudit,” Namun demikian, penulis merasa bangga dan bahagia sekalipun bekerja dari rumah dalam kondisi penyebawan covid 19 tidak menyurut semangat dan kerja keras untuk berkarya. Sekian semoga bermanfaat.

 

Tulungagung, 6 Juni 2020

 

 

 

 

 

 

 

Saturday, August 15, 2020

Pandemi Covid 19. Hari Raya Idul Fitri yang Tak Dirindukan

Pandemi Covid 19: Hari Raya Idul Fitri yang Tak Dirindukan

Moh. Arif

 Covid 19 ditengah-tengah kita tak kunjung redah dan belum ada tanda-tanda menurun, bahkan trendnya terus meningkat. Upaya pemerintah terus melakukan himbauan, tindakan, dan pelarangan untuk tidak melakukan aktivitas yang menimbulkan kerumunan massa agar penyebaran virus bisa terkendalikan.

Disaat penyebaran Covid 19 terus meningkat umat Islam harus merayakan hari raya idul fitri (lebaran) setelah menjalankan ibadah puasa selama 1 (satu) bulan. Karena kita tahu bahwa hari raya (lebaran) sebagai tanda atau bukti kemenangan umat Islam melawan syetan (hawa nafsu) selama berpuasa di bulan ramadhan. Menjalankan puasa ramadhan merupakan kewajiban bagi seluruh umat Islam. Puasa ramadhan biasanya dilakukan dengan berbagai kegiatan ibadah mulai sholat tarawih berjamaah, buka bersama, pengajian menjelang berbuka, tadarus bersama di mushollah dan masjid dan berkumpul bersama keluarga. Namun disaat Covid 19 semua itu tidak dapat dilaksanakan dengan normal, bahkan tidak dilaksanakan sama sekali dengan alasan dikhawatirkan adanya penyebaran Covid 19.

Hari raya idul fitri seyogyanya sebagai manifestasi dari kegembiraan atas keberhasilan umat Islam setelah mampu melawan hawa nafsu selama bulan ramadhan, euforia tersebut ditandai dengan pembacaan kalimat takbir, tahmid dan tahlil diberagai masjid, mushollah dan tempat-tempat lain. Selanjutnya dilakukan sholat sunnah berjamaah dan bersilaturrahim ke sanak keluaraga, famili serta kerabat. Kegiatan ini sudah menjadi rutinitas ritual keagamaan umat Islam setiap tahunnya. Pada saat pandemik covid 19 semua yang berkaitan dengan hari raya idul fitri (lebaran) dibatasi atau bahkan ditiadakan, adanya pelarangan pemerintah untuk mudik, dan bahkan akses masuk ke kampung-kampung yang biasa dilalui orang saat berkunjung ketetanggan saudara ditutup (portal) biarpun itu dalam suatu wilayah (desa/dusun).

Kegiatan ibadah (sholat ied), silaturrahim, reuni, dan halal bihalan yang biasa dilakukan ditahun sebelumnya, pada saat ini tidak bisa dilakukan secara langsung namun hanya bisa dilakukan secara virtual melalui aplikasi zoom, chat, whatsApp dan lain sebagainya.  Esensi hari raya terjadi pergeseran dan perubahan yang tak normal. Berkaitan dengan ibadah dan silaturrahim pada saat lebaran menurut Imam Besar Masjid Istqlal, KH. Nazarudin Umar, pada cara refleksi ramadhan dan menyambut lebaran 1441 H mengatakan bahwa pada dasarnya ukuran pahala ibadah sesorang apakah di dalam bulan ramadhan atau di luar ramadhan atau saat melaksanakan lebaran serta silaturrahim harus dimaknai sebagai metaforik yaitu kesejuan hati, keheningan hati, keikhlasan, penuh kasih sayang dan kerinduan kepada Allah SWT. tanpa melihat dimana, kapan dan bersama atau sendiri. Jadi ibadah atau silatrrahim tidak dimaknai secara simbolik belaka yang tergantung pada waktu dan tempat, terutama di saat terjadi pandemi Covid 19 saat ini.           

Hari raya idul fitri tidaklah seperti tahun-tahun sebelumnya, saat ini umat Islam hanya merayakan dari rumah bersama keluarga kecilnya. Hal ini bukan sesuatu yang diharapkan bahkan dirindukan. Hari raya idul fitri (lebaran) yang biasa dilakukan berkumpul bersama keluarga besar, anjang sini-sana, ketemu tentangga, teman dan bersalam-salaman. Semua itu tidak bisa dilakukan lantaran dikhawatirkan terjadi penyebaran Covid 19. Bahkan pikiran dan sikap saya serba tidak enak ketika bertemu tetangga tidak berjabat tangan baik saat berpapasan dan saat lewat di depan rumahnya tidak bertamu. Namun kami menyadari dan merasa tidak ada beban untuk bersilaturrahim, karena dihari pertama lebaran rumah-rumah tetanga semua pada tutup pintu, area masuk perkampungan di portal dan penjagaan oleh warga disetiap gang masuk perkampungan. Hal ini bertanda bahwa tidak diperbolehkan berkunjung dan bersilaturrahim, ini sesuatu yang tidak diharapkan disaat yang bersamaan saya dan seluruh umat Islam harus merayakan lebaran yang identik dengan kegiatan silaturrahim.  

Di samping itu, sebagai sebuah ritual keagamaan setiap tahun umat Islam melakukan sholat ied berjamaah, berkumpul bersama keluarga, silaturrhim ke saudara, tetangga, teman dan kerabat untuk saling maaf memaafkan satu sama lain. Namun pada saat ini tentu sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena pada tahun ini perayaan idul fitri hanya bisa dilakukan di rumah masing-masing termasuk kegiatan sholat ied berjamaah, silaturrahim tidak lagi dilakukan dengan berkunjung sana-sini, salam-salaman dan semua harus dilakukan via online yang hanya terbatas pada keluarga inti saja dan teman-teman dekat.  

Kondisi di atas, memang tidaklah terjadi diseluruh plosok desa, akan tetapi hanya terjadi dibeberapa wilayah saja, namun adanya pembatasan tersebut justru esensi lebaran tidak lagi dirasakan sepenuhnya oleh sebagian umat Islam. Lebaran sebagai tardisi keagamaan umat Islam tidak bisa lagi dilaksanakan secara normal dan bahkan tidak bisa dilakukan sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya. Tentu hal ini membuat lebaran tidak begitu diharapkan bahkan lebih mementingkan menjaga diri dari penyebaran Covid 19 sehingga banya umat Islam berlebaran di rumah bersama keluarga kecilnya, makan, ngobrol dan bercanda ria bersama

Kondisi saat ini dimana umat Islam herus merayakan hari raya idul fitri 1 syawal 1441 H dengan gembira dan saling memaafkan, maka perayaan hari raya idul fitri saat ini sudah terjadi pergeseran makna atau cara yang di dalamnya dimaknai sebagai hari dimana umat Islam dapat melakukan kegiatan silaturrahim terhadap saudara, keluarga teman dan sanak famili lain sebagainya secara langsung. Namun pada hari raya idul fitri sekarang ini tidak lagi bisa dilakukan secara langsung akan tetapi dilakukan secara online sehingga upaya bertatap muka dan melepaskan kerinduan dengan keluarga tidak lagi digapainya. Sekalipun kegiatan ini tidaklah membuat kendala bagi umat Islam untuk terus menjalin silaturrahim dengan sanak family, teman dan kolega. Namun demikian, hal ini bukanlah perayaan yang diharapkan bahkan dirindukan oleh sebagian umat Islam. Sekalipun semua ini kita jadikan pembelajaran dan hikmah agar kita tetap bersabar dan berikhtiyar untuk menjadi hamba-hambah yang berkualitas iman, taqwa dan ipteknya.

Lebaran yang seyogyanya dirindukan oleh umat Islam, maka lebaran tahun ini tidak lagi dirindukan bahkan lebih menjaga terjadinya penyebaran Covid 19 yang sudah menjadi pandemi di negara Indonesia bahkan Dunia. Lebaran yang dilakukan dengan meriah dan gembira baik di perkotaan atau diperkampungan khususnya tidak lagi tampak lalu lalang warga dan kegembiraan disaat Covid 19. Bahkan saya rasakan sendiri, saat melintas hanya menyapa saja, hal ini sangat aneh dan sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya dimana pada saat bersalipan atau lewat di depan rumah warga yang ada hanya menyapa biasa. Namun sepertinya semua warga atau masyarakat menyadari hal ini dan pemaknaannya tentu berbeda dengan hari-hari di luar lebaran.

Setidaknya ada beberapa indikator bahwa lebaran tidaklah dirindukan pada saat pandemi Covid 19 yaitu pertama: adanya pembatasan atau larangan mudik lebaran, tidak seperti tahun sebelumnya dimana masyarakat berbondong-bong memadati stasiun, terminal dan bandara bahkan pemerintah menyediakan armada mudik lebaran, meraka yang berada di perkotaan berlomba-lomba pulang kampung untuk melaksanakan lebaran di desa. Tradisi mudik menjadi tradisi yang dirindukan disaat menjelang lebaran. Namun pada saat ini, semua sirnah dan tidak bisa dilakukan lantaran pandemi Covid 19. Pemerintah melarang mudik karena adanya penyebaran Covid 19. Kerinduan akan lebaran tidak lagi dirasakan seperti tahun sebelumnya karena tidak bisa mudik dan berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Penjagaan petugas perbatasan diperkatat dengan berbagai cara untuk menghalangi masyarakat yang akan mudik.  Kebijakan ini tentunya diambil demi memutus mata rantai penularan Covid-19.

Kedua, kerinduan akan jajan khas di kampung. Pada lebaran tahun ini semua tidak dapat dicapai dan nikmati lantaran tidak bisa pulang kampun untuk sekedar menikmati jajanan khas kampung saat lebaran. Hal ini membuat lebaran tahun ini tidak memberikan esensi akan makna yang menjadi tradisi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Sekalipun hal ini tidak bisa menjadi ukuran akan makna lebaran dari segi spiritualitas, akan tetapi dapat mengurangi makna tradisi yang selalu dirindukan oleh masyarakat muslim saat lebaran. Di sisi lain, kegiatan ini termasuk salah satu yang paling dirindukan masyarakat saat lebaran. Namun, di tengah pandemi seperti ini, tradisi ini agaknya sulit dilakukan secara langsung lantara dtidak bisa pulang kampung.

Ketiga, tak kalah seruhnya yang selalu menjadi kegembiraan dan kerinduan umat Islam adalah kegiatan takbir keliling. Kegitan ini biasanya dilakukan oleh masyarakat, pelajar dan para pemuda di desa-desa dan perkotaan saat menjelang hari raya idul fitri sebagai tanda menyambut hari raya (lebaran), mereka berkeliling baik dengan cara jalan kaki atau pun naik mobil bak terbuka. Sembari memukul bedug dan bertakbir. Namun pada saat ini, suasana tersebut tidak lagi terdengar diperkempungan dan membuat kerinduan masyarakat akan hari raya idul fitri tidak lagi dirasakan lantaran pemerintah mengeluarkan kebijakan adanya larangan untuk berkerumun sebagai upaya mencegah penyebaran covud 19 salah satunya adanya kegiatan takbir keliling yang biasa dilakukan secara berjamaah dan berkerumun.

Keempat, halal bi halal (silaturrahim). Tradidisi ini, juga sangat kental dan melekat dikalangan umat Islam pasca lebaran. Halal bi halal merupakan acara silaturahmi dengan kegiatan saling meminta maaf baik dengan keluarga besar, teman sekolah, ataupun tetangga satu kampung yang selalu menjadi kerinduan umat islam. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan pada saat lebaran. Momentum halal bi halal selalu dimanfaatkan untuk ajang silaturrahim, betemu keluarga, reuni sekolah atau teman-teman yang jarang bertemu sebelumnya. Namun pada saat ini, semua tidak lagi bisa dilakukan, kerinduan akan lebaran yang identik dengan kegiatan halal bi halal tidak lagi darasakan oleh semua kalangan umat Islam. Hal ini lantara adanya larangan untuk melakukan kegiatan berkumpul dalam jumlah orang banyak termasuk kegiatan halal-bi halal yang identik dengan perkumpulan orang banyak yang didalamnya diadakan saling kangen dan lain sehingga dikhawatirkan terjadi penyebaran Covid 19.

Pandemi Covid 19 membuat lebaran tahun ini tidak lagi dirindunkan oleh sebagian umat Islam lantara tidak dapat memenuhi atau menjalankan tradisi yang biasa dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya sebagaimana di uaraikan di atas. Semua ini tidak bisa dilakukan lantaran masih terjadi penyebaran Covid 19, sebagian umat Islam lebih fokus untuk mencegah penyebaran Covid 19 dari pada harus pulang kampung (mudik), menikmati jajanan khas kampung, takbir keliling dan kegiatan halal bi halal sebagai tradisi pada saat lebaran. Semua itu hanya kenangan yang hanya dapat dirasakan tetapi tidak dapat dilakukan, Kerinduan akan hari raya tidak lagi bisa dinikamati dan dirayakan sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya.

Semoga pandemi Covid 19 ini bisa dilalui dan segera berakhir agar kita dapat beraktivitas kembali dengan normal dan pada tahun yang akan datang kita bisa menikmati dan merayakan hari raya idul fitri yang kita rindungan dan meriahkan tidak terjadi seperti tahun ini. Namun kita tetap semangat dan gembira sekalipun masih dirundung kesedihan akibat adanya pandemi Covid 19 serta selalu diberi kekuatan untuk menhadapinya dan dilindungi oleh Allah SWT. Aamiin  

 

Penulis dengan judul “Pandemi Covid 19: Hari Raya idul Fitri Yang Tak Dirindukan” Nama Dr. Moh. Arif, M. Pd, lahir di Sumenep Kepulauan Kangean Kecamatan Arjasa, sekarang aktif mengajar di Fakutas Tarbiayah dan Ilmu Keguruan (FTIK) mulai Tahun 2010 sampai sekarang, dan menjabat sebagai kepala pusat Audit mutu di Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Tulungagung pada tahun 2019-2022. Latar belakang Pendidikan S1 Jurusan Tarbiyah Universitas Hasyim’Asyari Tebuireng Jombang, S2 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Yogyakarta, dan S3 Manajemen Pendidikan Dasar Islam IAIN Tulungagung.