Jejak-Jejak Lietrasi

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, November 2, 2020

MENGABDI YANG TULUS

 

 Pengabdian merupakan salah satu bentuk syukur atas karunia Allah Swt yang diberikan kepada ummatnya, termasuk saya peribadi. Bagaimana tidak..? karena mengabdi buat masyarakat bagi saya merupakan bentu memberikan kemanfaat bagi masyarakat. Di masyarakat menerima manfaat atas apa yang telah dilakukan, maka pada saat itu kebanggaan dan rasa haru selalu tumbuh dalam diri. Ini mungkin tidak terjadi pada semua orang, namun bagi saya pribadi sangat berharga dan memberikan spirit yang luar biasa.

Beberapa hari yang lalu merasa senang dan bahagia lantara dapat berbagi ilmu dengan masyarakat, dimana kehadiran saya di tengah-tengah mereak seolah-olah memberikan kebahagiaan, kebanggaan dan penasaran. Hal ini adalah momentum bagi saya untuk memberikan yang terbaik bagi mereka agar ilmu yang saya peroleh bermanfaat bagi mereka. Pada saatnya saya pribadi untuk berbaur, aktif dan belajar bersama mereka serta tidak ada rasa kebahagian bagi saya selain mengabdi yang tulus untuk kesejahteraan masyarakat khususnya di mana saya tinggal.

Perjalanan panjang bagi saya agar bisa secara langsung inten bersama masyarakat belum juga tercapai, seklipun saya sering aktif mendapingi mahasiswa bahkan pernah ditugaskan menjadi kepala pusat pengabdian kepada masyarakat tepatnya pada tahun 2014-2016, namun belum secara maksimal untuk berbaur dengan masyarakat. Keaktifan dilembaga atau diorganisasi kemasyarakatan memberikan makna nyata dalam memahami kultur budaya masyarakat dan tentunya juga bisa berbagi.

Kehidupan dimasyarakat sangat lah unik dan menantang, karena sarus memahami kebiasaan dan kemampuan mereka. Oleh karena itu, tentu hal ini menjadikan motivasi bagi saya untuk belajar memahami, belajar karakteristik , belajar apa yang mereka inginkan untuk kemajuan msayarakat tersebut. Berbagai kegiatan yang saya merasa bangga dan terhormat yaitu dapat menjadi bagian dari mereka dalam kegiatan kemasyarakat mulai penyusunan program, pengajian bersama, kegiatan koin dan santunan. Saya menyadari bahwa saya belum ada apa-apanya dan masih perlu belajar banya ilmu, karena tidak menjamin bahwa lulusan doktor mampu melakukan segalanya.

Memajukan organisasi memang perlu orang pintar, namun tak cukup hanya pintar, maka diperlukan orang benar, hal tersebut belumlah cukup sehingga diperlukan orang kober. Ketiganya memang sangat jarang didapat terkadang ada orang pinter tapi kurang benar dan tidak kober, ada orang pintar dan benar tetapi tidak kober dst. Oleh karena itu, yang menjadi kunci adalah tercapainya tiga hal tersebut yaitu pinter, benar dan kober.

Semoga keberhasilan dan pengabdian kita selalu didukung dengan tiga hal agar dapat memberikan kemanfaatan bagi semua orang. Sebagaimana hadis “khairunnas anfauhum linnas” sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang memberi manfaat bagi orang lain.

Tulungagung, 03-11-2020

Moh. Arif

Wednesday, October 14, 2020

Pandemi Covid 19: Hari Raya Iduli Fitri yang Tak Dirindukan

 

Oleh
Moh. Arif. 


Hari raya idul fitri di tengah-tengan masyarakat muslim selalu menjadi tradisi yang ditunggu-tungu, karena momentum tersebut merupakan hari dimana umat Islam memperoleh kemenangan yang luar biasa. Hari raya di masa pandemi bagaikan belenggu untuk mearayakan kegembiraan, bersilaturrahim, saling memaafkan, karena adanya larangan untuk berkumpul dan berkujung yang nantinya dapat menjadi klaster penyebaran virus, tapi apala daya semua tidak bisa dicapai. Ini penting untuk selalu kita ingat bahwa lebaran tidak lagi rindukan namun tetap sebagai umat Islam harus mentradisikan silaturrahim kepada keluarga teman dan kerabat agar keberkahan selalu melimpah dan dijadikan lebaran yang akan datang terasa. Simak dan baca tulisan selanjutnya tentang makna lebaran yang tak dirindukan ditengan kovid 19.

 

Covid 19 ditengah-tengah kita tak kunjung redah dan belum ada tanda-tanda menurun, bahkan trendnya terus meningkat. Upaya pemerintah terus melakukan himbauan, tindakan, dan pelarangan untuk tidak melakukan aktivitas yang menimbulkan kerumunan massa agar penyebaran virus bisa terkendalikan.

Disaat penyebaran Covid 19 terus meningkat umat Islam harus merayakan hari raya idul fitri (lebaran) setelah menjalankan ibadah puasa selama 1 (satu) bulan. Karena kita tahu bahwa hari raya (lebaran) sebagai tanda atau bukti kemenangan umat Islam melawan syetan (hawa nafsu) selama berpuasa di bulan ramadhan. Menjalankan puasa ramadhan merupakan kewajiban bagi seluruh umat Islam. Puasa ramadhan biasanya dilakukan dengan berbagai kegiatan ibadah mulai sholat tarawih berjamaah, buka bersama, pengajian menjelang berbuka, tadarus bersama di mushollah dan masjid dan berkumpul bersama keluarga. Namun disaat Covid 19 semua itu tidak dapat dilaksanakan dengan normal, bahkan tidak dilaksanakan sama sekali dengan alasan dikhawatirkan adanya penyebaran Covid 19.

Hari raya idul fitri seyogyanya sebagai manifestasi dari kegembiraan atas keberhasilan umat Islam setelah mampu melawan hawa nafsu selama bulan ramadhan, euforia tersebut ditandai dengan pembacaan kalimat takbir, tahmid dan tahlil diberagai masjid, mushollah dan tempat-tempat lain. Selanjutnya dilakukan sholat sunnah berjamaah dan bersilaturrahim ke sanak keluaraga, famili serta kerabat. Kegiatan ini sudah menjadi rutinitas ritual keagamaan umat Islam setiap tahunnya. Pada saat pandemik covid 19 semua yang berkaitan dengan hari raya idul fitri (lebaran) dibatasi atau bahkan ditiadakan, adanya pelarangan pemerintah untuk mudik, dan bahkan akses masuk ke kampung-kampung yang biasa dilalui orang saat berkunjung ketetanggan saudara ditutup (portal) biarpun itu dalam suatu wilayah (desa/dusun).

Kegiatan ibadah (sholat ied), silaturrahim, reuni, dan halal bihalan yang biasa dilakukan ditahun sebelumnya, pada saat ini tidak bisa dilakukan secara langsung namun hanya bisa dilakukan secara virtual melalui aplikasi zoom, chat, whatsApp dan lain sebagainya.  Esensi hari raya terjadi pergeseran dan perubahan yang tak normal. Berkaitan dengan ibadah dan silaturrahim pada saat lebaran menurut Imam Besar Masjid Istqlal, KH. Nazarudin Umar, pada cara refleksi ramadhan dan menyambut lebaran 1441 H mengatakan bahwa pada dasarnya ukuran pahala ibadah sesorang apakah di dalam bulan ramadhan atau di luar ramadhan atau saat melaksanakan lebaran serta silaturrahim harus dimaknai sebagai metaforik yaitu kesejuan hati, keheningan hati, keikhlasan, penuh kasih sayang dan kerinduan kepada Allah SWT. tanpa melihat dimana, kapan dan bersama atau sendiri. Jadi ibadah atau silatrrahim tidak dimaknai secara simbolik belaka yang tergantung pada waktu dan tempat, terutama di saat terjadi pandemi Covid 19 saat ini.           

Hari raya idul fitri tidaklah seperti tahun-tahun sebelumnya, saat ini umat Islam hanya merayakan dari rumah bersama keluarga kecilnya. Hal ini bukan sesuatu yang diharapkan bahkan dirindukan. Hari raya idul fitri (lebaran) yang biasa dilakukan berkumpul bersama keluarga besar, anjang sini-sana, ketemu tentangga, teman dan bersalam-salaman. Semua itu tidak bisa dilakukan lantaran dikhawatirkan terjadi penyebaran Covid 19. Bahkan pikiran dan sikap saya serba tidak enak ketika bertemu tetangga tidak berjabat tangan baik saat berpapasan dan saat lewat di depan rumahnya tidak bertamu. Namun kami menyadari dan merasa tidak ada beban untuk bersilaturrahim, karena dihari pertama lebaran rumah-rumah tetanga semua pada tutup pintu, area masuk perkampungan di portal dan penjagaan oleh warga disetiap gang masuk perkampungan. Hal ini bertanda bahwa tidak diperbolehkan berkunjung dan bersilaturrahim, ini sesuatu yang tidak diharapkan disaat yang bersamaan saya dan seluruh umat Islam harus merayakan lebaran yang identik dengan kegiatan silaturrahim.  

Di samping itu, sebagai sebuah ritual keagamaan setiap tahun umat Islam melakukan sholat ied berjamaah, berkumpul bersama keluarga, silaturrhim ke saudara, tetangga, teman dan kerabat untuk saling maaf memaafkan satu sama lain. Namun pada saat ini tentu sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena pada tahun ini perayaan idul fitri hanya bisa dilakukan di rumah masing-masing termasuk kegiatan sholat ied berjamaah, silaturrahim tidak lagi dilakukan dengan berkunjung sana-sini, salam-salaman dan semua harus dilakukan via online yang hanya terbatas pada keluarga inti saja dan teman-teman dekat.  

Kondisi di atas, memang tidaklah terjadi diseluruh plosok desa, akan tetapi hanya terjadi dibeberapa wilayah saja, namun adanya pembatasan tersebut justru esensi lebaran tidak lagi dirasakan sepenuhnya oleh sebagian umat Islam. Lebaran sebagai tardisi keagamaan umat Islam tidak bisa lagi dilaksanakan secara normal dan bahkan tidak bisa dilakukan sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya. Tentu hal ini membuat lebaran tidak begitu diharapkan bahkan lebih mementingkan menjaga diri dari penyebaran Covid 19 sehingga banya umat Islam berlebaran di rumah bersama keluarga kecilnya, makan, ngobrol dan bercanda ria bersama

Kondisi saat ini dimana umat Islam herus merayakan hari raya idul fitri 1 syawal 1441 H dengan gembira dan saling memaafkan, maka perayaan hari raya idul fitri saat ini sudah terjadi pergeseran makna atau cara yang di dalamnya dimaknai sebagai hari dimana umat Islam dapat melakukan kegiatan silaturrahim terhadap saudara, keluarga teman dan sanak famili lain sebagainya secara langsung. Namun pada hari raya idul fitri sekarang ini tidak lagi bisa dilakukan secara langsung akan tetapi dilakukan secara online sehingga upaya bertatap muka dan melepaskan kerinduan dengan keluarga tidak lagi digapainya. Sekalipun kegiatan ini tidaklah membuat kendala bagi umat Islam untuk terus menjalin silaturrahim dengan sanak family, teman dan kolega. Namun demikian, hal ini bukanlah perayaan yang diharapkan bahkan dirindukan oleh sebagian umat Islam. Sekalipun semua ini kita jadikan pembelajaran dan hikmah agar kita tetap bersabar dan berikhtiyar untuk menjadi hamba-hambah yang berkualitas iman, taqwa dan ipteknya.

Lebaran yang seyogyanya dirindukan oleh umat Islam, maka lebaran tahun ini tidak lagi dirindukan bahkan lebih menjaga terjadinya penyebaran Covid 19 yang sudah menjadi pandemi di negara Indonesia bahkan Dunia. Lebaran yang dilakukan dengan meriah dan gembira baik di perkotaan atau diperkampungan khususnya tidak lagi tampak lalu lalang warga dan kegembiraan disaat Covid 19. Bahkan saya rasakan sendiri, saat melintas hanya menyapa saja, hal ini sangat aneh dan sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya dimana pada saat bersalipan atau lewat di depan rumah warga yang ada hanya menyapa biasa. Namun sepertinya semua warga atau masyarakat menyadari hal ini dan pemaknaannya tentu berbeda dengan hari-hari di luar lebaran.

Setidaknya ada beberapa indikator bahwa lebaran tidaklah dirindukan pada saat pandemi Covid 19 yaitu pertama: adanya pembatasan atau larangan mudik lebaran, tidak seperti tahun sebelumnya dimana masyarakat berbondong-bong memadati stasiun, terminal dan bandara bahkan pemerintah menyediakan armada mudik lebaran, meraka yang berada di perkotaan berlomba-lomba pulang kampung untuk melaksanakan lebaran di desa. Tradisi mudik menjadi tradisi yang dirindukan disaat menjelang lebaran. Namun pada saat ini, semua sirnah dan tidak bisa dilakukan lantaran pandemi Covid 19. Pemerintah melarang mudik karena adanya penyebaran Covid 19. Kerinduan akan lebaran tidak lagi dirasakan seperti tahun sebelumnya karena tidak bisa mudik dan berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Penjagaan petugas perbatasan diperkatat dengan berbagai cara untuk menghalangi masyarakat yang akan mudik.  Kebijakan ini tentunya diambil demi memutus mata rantai penularan Covid-19.

Kedua, kerinduan akan jajan khas di kampung. Pada lebaran tahun ini semua tidak dapat dicapai dan nikmati lantaran tidak bisa pulang kampun untuk sekedar menikmati jajanan khas kampung saat lebaran. Hal ini membuat lebaran tahun ini tidak memberikan esensi akan makna yang menjadi tradisi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Sekalipun hal ini tidak bisa menjadi ukuran akan makna lebaran dari segi spiritualitas, akan tetapi dapat mengurangi makna tradisi yang selalu dirindukan oleh masyarakat muslim saat lebaran. Di sisi lain, kegiatan ini termasuk salah satu yang paling dirindukan masyarakat saat lebaran. Namun, di tengah pandemi seperti ini, tradisi ini agaknya sulit dilakukan secara langsung lantara dtidak bisa pulang kampung.

Ketiga, tak kalah seruhnya yang selalu menjadi kegembiraan dan kerinduan umat Islam adalah kegiatan takbir keliling. Kegitan ini biasanya dilakukan oleh masyarakat, pelajar dan para pemuda di desa-desa dan perkotaan saat menjelang hari raya idul fitri sebagai tanda menyambut hari raya (lebaran), mereka berkeliling baik dengan cara jalan kaki atau pun naik mobil bak terbuka. Sembari memukul bedug dan bertakbir. Namun pada saat ini, suasana tersebut tidak lagi terdengar diperkempungan dan membuat kerinduan masyarakat akan hari raya idul fitri tidak lagi dirasakan lantaran pemerintah mengeluarkan kebijakan adanya larangan untuk berkerumun sebagai upaya mencegah penyebaran covud 19 salah satunya adanya kegiatan takbir keliling yang biasa dilakukan secara berjamaah dan berkerumun.

Keempat, halal bi halal (silaturrahim). Tradidisi ini, juga sangat kental dan melekat dikalangan umat Islam pasca lebaran. Halal bi halal merupakan acara silaturahmi dengan kegiatan saling meminta maaf baik dengan keluarga besar, teman sekolah, ataupun tetangga satu kampung yang selalu menjadi kerinduan umat islam. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan pada saat lebaran. Momentum halal bi halal selalu dimanfaatkan untuk ajang silaturrahim, betemu keluarga, reuni sekolah atau teman-teman yang jarang bertemu sebelumnya. Namun pada saat ini, semua tidak lagi bisa dilakukan, kerinduan akan lebaran yang identik dengan kegiatan halal bi halal tidak lagi darasakan oleh semua kalangan umat Islam. Hal ini lantara adanya larangan untuk melakukan kegiatan berkumpul dalam jumlah orang banyak termasuk kegiatan halal-bi halal yang identik dengan perkumpulan orang banyak yang didalamnya diadakan saling kangen dan lain sehingga dikhawatirkan terjadi penyebaran Covid 19.

Pandemi Covid 19 membuat lebaran tahun ini tidak lagi dirindunkan oleh sebagian umat Islam lantara tidak dapat memenuhi atau menjalankan tradisi yang biasa dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya sebagaimana di uaraikan di atas. Semua ini tidak bisa dilakukan lantaran masih terjadi penyebaran Covid 19, sebagian umat Islam lebih fokus untuk mencegah penyebaran Covid 19 dari pada harus pulang kampung (mudik), menikmati jajanan khas kampung, takbir keliling dan kegiatan halal bi halal sebagai tradisi pada saat lebaran. Semua itu hanya kenangan yang hanya dapat dirasakan tetapi tidak dapat dilakukan, Kerinduan akan hari raya tidak lagi bisa dinikamati dan dirayakan sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya.

Semoga pandemi Covid 19 ini bisa dilalui dan segera berakhir agar kita dapat beraktivitas kembali dengan normal dan pada tahun yang akan datang kita bisa menikmati dan merayakan hari raya idul fitri yang kita rindungan dan meriahkan tidak terjadi seperti tahun ini. Namun kita tetap semangat dan gembira sekalipun masih dirundung kesedihan akibat adanya pandemi Covid 19 serta selalu diberi kekuatan untuk menhadapinya dan dilindungi oleh Allah SWT. Aamiin

 

 

Tuesday, September 1, 2020

Perjalanan Pendidikan

 

Perjalanan Pendidikan

Moh. Arif

 

Bagi masyarakat pendesaan atau daerah plosok Desa, sangat jarang mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, khususnya pada pendidikan perguruan tinggi, ini terjadi di era 90 an. Hal ini juga penulis alami. Penulis menyadari kondisi ini, dimana masyarakat pendesaan pada saat itu kurang memiliki akses informasi mengenai perkembangan pendidikan. Perjalanan penulis untuk menempu pendidikan ke jejang yang lebih tinggi mulai SD ke SLTP atau bahkan ke tingkat perguruan tinggi meninggalkan banyak kisah, perjuangan dan perjalanan terjal yang sedikit-demi sedikit penulis kikis sehingga mencapai pada puncak pendidikan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Perjalan pendidikan penulis dimulai pada saat sekolah dasar (SD Impres) nama yang tidak asing bagi masyarakat di zaman orde baru, pendidikan dimasa itu belum menurut penulis masih belum berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan anak bangsa. Namun hanya pada pemenuhan kewajiban UUD atau parauran lainnya. Pendidikan pada masa itu belum menyentuh pada substansi tujuan pendidikan itu sendiri, pola pendidikan masih menggunakan pola ceramah dan tindakan-tindakan kekerasan, ini tidak lepas dari masa kepemimpinan orde baru yang kejam dan keras dan tidak jarang siswa mengalami tindak kekerasan dari seorang guru atau antar sesama.  Hal itu, menurut penulis tidak lah berlaku umum, namun itu yang dirasakan penulis pada bangku sekolah dasar. Proses pembelajaran tidak berjalan sebagaimana mestinya bahkan kalau diprosentasikan antara kegiatan pembelajaran dengan tidak perbandingannya 35%:75%. Ini artinya bahwa pendidikan tidak lagi mementingkan kualitas atau bahkan proses.

Bagi penulis ini adalah tantangan dan mutivasi intrinsik yang selalu tumbuh dalam diri penulis, bahwa perjalanan masa depan sangatlah panjang, perubahan pola pikir semakin berkembang, zaman akan berubah, dan pola-pola pendidikan akan mengalami transformasi yang sanga cepat. Inilah yang menjadi keyakinan penulis untuk tidak putus asa dalam menggapai pendidikan yang lebih baik sesuai jenjang yang harus dilampaui. Pendidikan dasar pada tinggkat SD/MI belumlah selesai karena harus masuk pada jenjang pendidikan di atasnya yaitu pendidikan lanjutan pertama (SLTP/MTs). Pada tingkat ini, penulis mulai masuk pada fase dimana harus bersaing dengan berbagai lulusan SD/MI. Percaya diri harus ditunjukkan untuk membuktikan bahwa penulis bukanlah sosok yang lemah dan malas. Melalui pendidikan pada lajutan pertama, penulis mulai tumbuh motivasi belajar, rajin dan disiplin. Karena penulis meyakini bahwa dengan rajin dan disiplin akan mampu memberikan perubahan kemampuan dan prestasi.

Berlalu pada pendidikan lanjutan yang ditempuh penulis selama 3 tahun, penulis ingin mencari suasan baru yaitu melanjutkan pendidikan ke wilayah daratan pulau maduru, namun terkendala biaya dan jarak yang sangat jauh karena harus menyebrangi lautan luas dari pulau Kangean ke Madura, rasa waswas muncul, kekhawatiran muncul dan lain-lain. Kekhawatiran ini bukan karena takut kalah bersain, melainkan kondisi ekonomi dan komunikasi dengan keluarga. Namun dengan berjalannya waktu, penulis harus yakin dan nekat untuk bisa tetap lanjut ke jenjang pendidikan lebih tinggi (MA/SMA) di luar kepulauan Kangean, dengan modal keyakinan dan nekat, akhirnya penulis melanjutkan pendidikan di pondok pesantren An-Nuqoyah Guluk-Guluk Sumenep yaitu pada jenangan MA.

Perjalan melanjutkan ke pendidikan Madrasah Aliyah tidaklah mulus, karena harus mengikuti aturan yang berlaku di pondok pesantren An-Nuqoyah yang memiliki 3 lembaga pendidikan foral tingkat atas yaitu MA 2, MA 1 dan MAK. Untuk masuk ke 3 lembaga memiliki ketentuan-ketentuan, misalnya untuk masuk ke MAK harus memiliki kemampuan baca kitab, masuk ke MA 1 harus lulusan alumni MTs 1 An-Nuqoyah, sedangkan MA 2 cendrung menerima dari semua lulusan sebelumnya. Beberapa ketentuan di atas, penulis memilih MA 2, untuk menjadi tempat belajar setelah lulus MTs, namun perjalanannya tidaklah lancar karena letak MA 2 itu berada diluar lingkungan pondok pesantren An-Nuqoayah dimana penulis bermukim yaitu di daerah lubangsa Raya. Perjalanan dari pondok ke MA 2 ditempuh sekitar 6 KM yang ditempuh melalui jalan kaki atau naik angkot. Tidak lama dijalani, penulis merasa tak mampu untuk melanjutkan, hal ini bukan karena materi dan pembelajarannya, melainkan jarak tempuh yang sangat jauh. Akhirnya penulis berubah pikiran untuk pindah ke MA 1, namun dengan tetap mengikuti persayaratan yang ditentukan yaitu harus mengulang di MTs khusus sebagai syarat masuk ke MA 1. Setelah penulis memenuhi persayaratan tersebut, akhirnya mengikuti pembelajaran di MTs Khusus selama 3 tahun agar bisa masuk ke MA 1, setelah lulus, kemudian masuk ke MA 1. Suasana proses belajar mulai merasakan enjoy dan menikmatinya.

Perjalanan ini tentu membutuhkan perjuangan yang luar dan pantang menyerah karena berangka dari niat yang tulus untuk belajar dan belajar. Selama belajar di pondok pesantren An-Nuqayah tentu banyak pelajaran dan ilmu yang diperoleh dan ini menjadi bekal penulis untuk terus terbang mraih mimpi melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Waktu menyelesaikan pendidikan di PP An-Nuqayah selama 4 tahun, waktu yang sangat singkat dan cepat. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, penulis setelah lulus kemudian pulang kampun dan mengabdi selama 1 tahun. Selama 1 tahun belalu, pikiran mulai kuran fokus dan campur aduk antara melanjutkan ke jenjang S1 atau cukup dengan lulusan MA karena di sisi lain kondisi ekonomi orang tua yang tak mampu untuk membiyai pendidikan pada tingkat S1. Namun bagi penulis tidaklah menjadi kendala untuk tetap melanjutkan ke jenjang S1, apa sebenarnya yang memotivasi?. Motivasi yang muncul adalah karena banyaknya pemudah yang hanya lulus SD/SMP/MA, kurangnya kepedulian pada pendidikan keluarga dan lemahnya kesadaran terhadap pendidikan. Ini yang membuat penulis bersikeran untuk tetap melanjutkan ke jenjang S1. Pertama kali yang ditujuh adalah UNEJ Jember melalui jalus SMPTN dan kedua melanjutkan IAIN Yogyakarta. Kedua kampus tersebut tidak memberikan waktu lama bagi penulis untuk belajar sampai selesai karena faktor X yang kemdian tidak mendukung.

Dengan tetap pada niat awal, kemudian masuk ke IAIN Surabaya, lagi-lagi tidak sampai selesai, kemudian pindah ke IKAHA Tebuireng dengan harapan sambil mengikuti program pondok di PP Tebuireng. Selama di pondok tebuireng, penulis menyelesaikan program S1, kemudian melanjutkan program S2 melalu Beasiswa Kemenag pada tahun 2007 ke Universitas Negeri Yogyakarta. Perjalan saat mengikuti perkuliah alhamdulillah lancar dan sukses karena perkuliahan pada jenjang S2 ditempuh selama 23 bulan. Kemudian setelah lulus, mengabdi di tebuireng sebagai dosen di IKAHA. Pada tahun 2009 akhir, mendaftar sebagai dosen PNS di STAIN Tulungagung, alhamdulilah diterima sebagai dosen di program studi PGMI. Berjalan beberapa tahun kemudian, pada tahun 2014-2018 penulis dipercaya untuk menjadi kepala pusat PkM, namun tidak sampai selesai, pada tahun 2016, penulis melanjutkan ke jejnag S3, pas 9 tahun setelah lulus S2.

Perjalanan pada jenjang S3 tentu sangat meringankan karena mendapat beasiswa MORA dari kemenag selama 3 tahun. Selama kuliah S3, penulis dibebas tugaskan dari tugas sebagai dosen maupu tugas lainnya selama proses perkuliahan, termasuk tugas sebagai kepala pusat PkM. Perkuliahan S3 ditempuh selama 3 tahun dengan nilai prestasi coumload. Perjalan pendidikan ini bukanlah suatu kebetulan melainkan karena tekat, niat yang tulus dari dalam diri. Tak peduli biaya yang besar dan pelajaran yang sulit. Namun karena ketulusan dan motivasi diri yang dimiliki, merupakan modal untuk mencapai puncak karir pendidikan.

Pada saat ini, penulis merasa bersyukur dan berterimakasih kepada kedua orang tua, keluarga, anak istri, teman dan kolega yang telah mendukung perjalanan penulis untuk terus belajar dan berkair dalam dunia pendidikan dan berharap semua yang diperoleh dapat memberi manfaat bagi keluarga dan semua kalangan.

 

Jombang, 2 September 2020

Moh. Arif